The End of StepenAutis

Para pembaca sekalian, sebelum judul postingan di atas membuat kalian berpikiran yang enggak2 seperti:

  1. Stepen mau bunuh diri karena mantannya mau kawin (curcol)
  2. Stepen mau bunuh diri karena kerjaannya menyiksa (curcol juga)
  3. Stepen mau bunuh diri karena ternyata ada yang nyolongin cangcut gw (believe it or not, it is true, I feel that my underwear is getting less and less everytime I wash it), atau
  4. Stepen berhenti berlaku autis dan menjadi seorang lelaki dewasa secara utuh yang mengabdi kepada nusa dan bangsa tanah air Indonesia Raya,

Gw pengen klarifikasi, gw ga akan bunuh diri ataupun berhenti ngeblog. Namun, gw secara personal merasa perlu untuk berhenti menggunakan nama StepenAutis karena nama blog gw ini menggunakan kata autis yang sebenernya gw maksudkan untuk bercanda dan menggambarkan kehidupan gw secara umum, namun berpotensi untuk membuat gw dicekal, blog gw discreenshot terus di-share di facebook buat di-bully rame2 dan akhirnya berujung2 ke gw bunuh diri. Yeah, jadi, for my own survival, I decided to change my blog.

So, this will be my last post in this blog (pasang lagu sedih), but fear not, gw ud memindahkan semua konten yang ada di blog ini ke blog baru gw yang lebih gaul dan fantastis dengan nama domain yang super cangcing dan kreatif: stepenstepen.com. As for this blog, gw sendiri terus terang bingung enaknya diapain. Gw sih prefer untuk menghapus blog ini untuk menghilangkan bukti atau jejak bahwa gw pernah menggunakan kata autis untuk nama blog gw. Tapi kalau langsung diapus, rasanya sayang secara blog ini ud banyak banget subscribernya (Hingga postingan ini ditulis, tercatat ada 37 orang subscriber!). Alternatif laen adalah dengan nge-redirect blog ini ke blog baru gw supaya traffic blog ini secara otomatis kelempar ke blog baru gw, yang niatnya akan gw komersilkan supaya gw bisa tajir tanpa harus kerja kantoran 8to5 everyday (#ngarep), but then it means, domain stepenautis.wordpress.com masih aktif dan berpotensi untuk discreenshot orang terus di-share di facebook buat di-bully rame2 dan again, berujung ke gw bunuh diri dengan cara tahan napas sambil makan kerupuk. So, I guess I am gonna leave this blog be for awhile and deleted it after blog yang baru mulai ngetop.

So, kepada 37 subscriber gw, ini saatnya kalian untuk move-on dan subscribe ke blog baru gw: the more awesome stepenstepen.com.

Stepen – Ud Move On (ke blog baru)

PS: Sorry for the abuse in link, ini semua demi SEO blog baru gw.

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar

Rackexcalibur III : The Legend Ends

Ini adalah sekuel dari postingan Rackexcalibur II yang adalah sekuel dari postingan Rackexcalibur!. Untuk memahami lebih detail sekuel dari sekuel ini, silahkan baca terlebih dahulu postingan Rackexcalibur! dan Rackexcalibur II yang mana adalah sekuel dari postingan Rackexcalibur!. Sangat dianjurkan untuk membaca terlebih dahulu postingan Rackexcalibur! sebelum membaca postingan Rackexcalibur II. Jangan membaca postingan  Rackexcalibur II tanpa membaca postingan Rackexcalibur! terlebih dahulu sebelumnya karena jika kalian meembaca Rackexcalibur II dahulu sebelum membaca Rackexcalibur!, maka semuanya akan menjadi gelap. Adapun paragraph ini gw tulis sebagai pengantar dan bukan semata-mata sengaja dilakukan untuk meng-abuse SEO blog gw dengan berulang-ulang menampilkan link ke postingan Rackexcalibur! dan Rackexcalibur II. Oke, here we go!

OLYMPUS DIGITAL CAMERAOLYMPUS DIGITAL CAMERA

Seperti yang kalian tau dari postingan Rackexcalibur II yang adalah sekuel dari postingan Rackexcalibur! (okay, stop it Stepen!), Juni yang lalu, raket legendaris yang gw terima dari The Onosatou-san pun power-up dengan grip baru yang gw terima dari Romo Don Juan. Semenjak itu, permainan Badminton gw pun membaik dan sempat hampir berhasil mengalahkan cewek SMP yang biasanya mengalahkan gw telak. Namun tidak disangka, kemampuan tersebut membuat gw terlena dan manja. Ya, I was blinded by such power that I started to get cocky and slacking off. And here is the story about the bad effect of slacking off.

Kurang lebih sebulan yang lalu, sidekick sekaligus weker personal gw, Reza Kemben, pulang gw negeri Indonesia untuk mendapatkan tambatan hatinya, meninggalkan gw selaku super hero untuk beraksi sendiri membasmi kejahatan di dunia perbadmintonan. Alhasil, karena angkuh akibat terlalu dimanja Rackexcalibur II yang ud di-power up, plus ga adanya Reza Kemben yang membangunkan gw untuk sesi badminton di sabtu pagi, gw pun slacking off selama kurang lebih sebulan dan menghabiskan seluruh weekend gw di kasur, meditasi sambil ngupil. Dan tanpa gw sadari, kemampuan gw pun sedikit demi sedikit terkikis dan kepekatan chakra gw pun memudar.

Reza Kemben di sisi laen, justru doi berkelana keliling Jepang dengan sahabatnya, Melon Kolis, mengasah ilmu dan tenaga dalam mereka lewat perjalanan 16kippu yang mereka lakukan tanpa makan dan minum sedikitpun, kecuali di saat mereka lapar dan haus. Mereka berdua memaksakan fisik mereka melampaui batas sampai akhirnya menemukan penerangan di tempat tujuan mereka: Hakodate, yang bila diterjemahkan secara ngaco ke bahasa Indonesia, nama tempat tersebut berarti gua bulu tangkis. Ternyata, Reza Kemben telah mengetahui bahwa salah satu dari 7 raket legendaris yang tersebar di seluruh penjuru Jepang dan dengan sengaja meninggalkan gw untuk mencari raket tersebut bersama Melon Kolis. Dan perjalanannya pun tidak sia-sia.

Setelah 4 hari menempuh perjalanan 16kippu tanpa makan dan minum sedikitpun kecuali di saat mereka lapar dan haus, mereka akhirnya sampai di mulut gua bulu tangkis. Mereka pun memasuki gua tersebut dan menjelajahinya sampai ke ujung yang paling dalam. Setelah kurang lebih 30 detik menelurusi seluruh ujung goa, akhirnya mereka pun sampai pada satu meja altar besar di dalam gua tersebut. Di atas altar tersebut, berbaring sebuah tengkorak yang telah termakan usia yang menggenggam erat sebuah raket usang yang disandarkan di atas dadanya. Pada frame itu, terukir tulisan kaligrafi dalam bahasa Jepang kuno yang berbunyi: “Endi, nang kene lo” yang artinya angin yang melambai.

Reja pun mengambil raket tersebut dari tangan sang tengkorak dan seketika angin sepoi-sepoi berhembus dari seluruh penghubung goa. Tengkorak tersebut pun terangkat dari altarnya, seolah diterbangkan oleh angin sepoi-sepoi tersebut dan tiba-tiba cahaya biru merebak masuk menyinari tengkorak tersebut dan seketika tengkorak tersebut memudar menjadi debu-debu yang tertiup angin sepoi-sepoi tersebut. Reja pun menundukkan kepalanya dan segera berlalu dari gua bulu tangkis tersebut. Dan di mulut gua, Reja pun kaget mendapati penduduk desa yang telah menunggunya sambil bersujud.

Penduduk desa pun menceritakan kepada Reja bahwa sejak jaman Nobunaga dahulu, seorang pandai besi legendaris menciptakan raket badminton yang ditempa dengan angin sepoi-sepoi, namun karena kekuatan yang terlalu besar, pandai besi tersebut takut taket tersebut disalahgunakan dan doi pun menyegel raket tersebut di Hakodate bersama jasadnya, menunggu orang yang pantas untuk memegang raket tersebut dan ternyata orang tersebut tak lain tak bukan adalah Reza Kemben yang dengan tak bosan2nya harus gw ingatkan sekali lagi, bahwa doi adalah sidekick gw. Ya, adapun raket tersebut diberinama Masamunetz dan kekuatan spesial dari raket tersebut adalah dapat menciptakan angin semilir sepoi-sepoi saat diayunkan dengan sekuat tenaga. Ya, sebuah kekuatan spesial yang sangat berguna khususnya di musim panas ini.

Eniwei, Reza pun pulang dengan membawa raket legendari berelemen angin sepoi-sepoi, Masamunetz, tanpa menceritakan kepada gw tentang hal tersebut. Rupanya, doi cukup geram dengan gw yang terlena oleh kekuatan baru Rackexcalibur dan bermalas-malasan sepaanjang hari. Sampai di suatu hari sabtu yang cerah, Reja pun masuk ke kamar gw dan seperti biasa, memanggil gw untuk bermain badminton.

Singkat cerita, setelah mandi, pipis, sikat gigi, dan doa pagi mengucap syukur, gw pun pergi maen badminton dengan Reja. Kita pun memulai dengan sesi sparring ringan dan Reja pun mengeluarkan raket Masamunetz yang saat itu ia bungkus dengan kaen kafan dan tentu saja, gw yang saat itu belum tahu tentang Masamunetz, tidak tahu bahwa itu adalah Masamunetz. Anyway, kita pun memulai sesi sparring dengan Reja Kemben tetap bermain dengan keadaan Masamunetz terbungkus rapat oleh kain kafan.

Sparring pun dimulai dengan lob-lob ringan dan diselingi dengan sedikit obrolan. Reja pun mengatakan tentang gw yang makin males2an dan pembicaraan pun mulai memanas. Dengan obrolan yang mulai memanas, sparring pun ikut memanas dan obrolan ringan pun berubah menjadi sesi debat yang cukup kusir. Reza Kemben berusaha untuk menasehati gw agar tidak malas dan rajin mencuci kolor gw sementara gw yang saat itu dibutakan kekuatan dari Rackexcalibur pun panas dan akhirnya sesi sparring berubah menjadi sesi PBHM (Pertandingan Badminton Hidup dan Mati) dengan gw yang berusaha mengalahkan Reja dengan Rackexcalibur gw tanpa tahu bahwa yang ada di tangan Reja adalah Masamunetz.

Eniwei, biar ga kepanjangan postnya, pokoknya PBHM pun berlangsung dengan sengit dan akhirnya mencapai klimaks dengan skor 20-19 untuk keunggulan gw. Di saaat ini, gw pun sudah mulai curiga ada yang ga beres dengan raket Reja yang dibungkus kaen kafan tersebut. Gw merasakan adanya kekuatan yang menyala-nyala dari balik kaen kafan tersebut dan ternyata itu semua benar. Di saat skor 20-19 ini, gw pun memulai play dengan serve ciamik yang super fantastis dan Reja pun langsung menyamber servis gw dengan teknik Wind Smash. Seketika kain kafan yang membungkus Masamunetz pun sobek dan angin sepoi-sepoi berhembus menyertai smash-nya Reja. Gw yang sempat menggigil akibat angin sepoi-sepoi tersebut pun menjadi telat bereaksi dan gagal mengembalikan smash tersebut.

Gw pun menatap mata Reja dan tanpa mengucapkan satu patah katapun, gw dan Reja pun berkomunikasi via mata. Kira-kira begini pembicaraan kami:

GW: Someone’s been hiding something, eh?

R: I am not hiding something, I just dont wanna spoil myself with the power that I have and start to slack off like certain someone.

GW: Well, then, lets see if you can beat this certain someone that has been slacking off.

Dan gw pun memutuskan untuk tidak melakukan Deuce dan melanjutkan dengan Sudden Death. Skor 20 sama, dan yang memenangkan play terakir ini yang akan keluar sebagai pemenangnya. Reza pun mengangguk menyetujui dan play terakhir dari PBHM abad ini pun dimulai.

Reja memulai play dengan servis tinggi yang gw sambut dengan drive yang kental manis. Rally pun berjalan dengan seimbang selama kurang-lebih setengah jam sebelum akhirnya gw melakukan kesalahan dengan memberikan bola yang cukup tinggi di depan. Reja pun membaca bola mudah tersebut, mengangkat tangan kirinya ke atas untuk mengira-ngira jarak kok dan memindahkan titik berat tubuhnya ke kaki kanannya yang kini ada di belakang. Gw pun mengencangkan genggaman tangan gw dan berusaha untuk membaca arah dari Wind Smash yang akan Reja keluarkan. Gw pun kedip kiri dan Reja pun kedip kiri, namun Wind Smash pun dilepaskan ke arah kanan lapangan. Gw yang telah sedikit salah langkah pun melompat ke arah kanan dan menjatuhkan diri gw bak Cheetah yang hendak menerjang seekor Gazelle dan dengan ciamik pun berhasil meraih kok dan mengembalikannya dengan dropshot ajegile yang Reja hanya bisa tatap saja dari tengah lapangan karena ia masih melakukan Recovery dari Wind Smash stancenya. 21-20 untuk kemenangan gw. Namun semua itu harus gw bayar dengan harga yang mahal.

Gw pun bangkit dari jatuhnya gw dan menatap Reja dengan muka nyolot sambil mengembang kempeskan idung gw. Reja pun dengan santainya menatap kembali mata gw dan mengarahkan pandangannya ke mata gw, seolah menyuruh gw untuk menatap Rackexcalibur. Gw pun menatap Rackexcalibur dan tiba-tiba frame Rackexcalibur melengkung dan seketika patah. Gw pun membelalakkan mata gw, berusaha untuk tidak terlihat sipit, namun itulah yang terjadi. Rackexcalibur patah oleh Wind Smash Masamunetz.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Gw pun menatap Reja, menundukkan kepala gw dan berkata :

“Ja, lo bawa dua raket kan? Gw pinjem yah?”

Hingga saat posting ini diturunkan, terus terang gw masih bingung apa yang harus gw lakukan dengan Rackexcalibur yang patah ini. Gw sudah keliling Jepang selama sebulan ini untuk mencari pandai besi yang bisa mereparasi Rackexcalibur namun tak ada satupun yang menyanggupi. Setiap kali Rackexcalibur dimasukkan ke dalam bara api, Rackexcalibur sama sekali tidak memanas ataupun meleleh sehingga tidak dapat ditempa ataupun diperbaiki. Alhasil, semua pandai besi tersebut pun menolak untuk membantu gw karena tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki Rackexcalibur. Walaupun begitu, gw tidak sampai hati membuang Rackexcalibur karena ini adalah raket legendaris pemberian Onosatou-san. Opsi membeli raket baru juga tidak mungkin dilakukan karena gw terlalu pelit untuk ngeluarin duid buat raket tidak mungkin ada raket yang bisa menggantikan Rackexcalibur. Gw hanya berharap semoga dalam waktu dekat ini ada ksatria badminton lainnya seperti Onosatou-san, yang berbaik hati mau memberikan raket bekasnya legendarisnya ke gw. In the mean time, Ja, gw pinjem raket lo yah:D…

Stepen – Sedang Sedih karena Raket

Dipublikasi di Cerita Serius | Tag , , | Meninggalkan komentar

Mencoba Bikin Video – Second Attempt

Bagi yang setia mengikuti blog gw, tentu tau bahwa cita-cita ga kesampean gw adalah menjadi seorang kameramen National GEographic yang bagian ngebolang. Kenapa? Karena kerjaannya jalan2 mulu, dapet duid pula. I cant think of any other better job. So, dalam rangka ngarep jarak jauh bahwa entah gimana National Geographic melihat karya gw dan merekrut gw sebagai salah satu kameramennya, gw pun bulan lalu Mei/Juni yang lalu ngeupload video summary petualangan gw berikut dengan spinning cam gw dengan bonyok selama di Togean. Hasilnya? Memuaskan. Hingga postingan ini ditulis, video tersebut telah ditonton oleh 21 orang. Adapun 20 dari 21 orang itu gw yakin adalah gw sendiri yang ngebuka tutup buka tutup videonya berkali2 setiap kali gw nganggur.

So, ga mau kalah pada kegagalan gw, gw pun mencoba lagi. Yup, dan kali ini, I went crazy dan ngebikin full feature length video sepanjang 20 menit. Yeah, ngeditnya aj sampe pegel. Adapun video ini adalah kumpulan video diving gw di Lombok selama gw solo trip kemaren (Iklan: baca juga Lombok Solo Trip : Being Street Smart, postingan fantastis tentang petualangan solo gw di Lombok). So, without further ado, inilah dia video fantastis gw sepanjang 20 menit yang diiringi dengan soundtrack epic dari game Chocobo Dungeon. Enjoy!

PS: Berdasarkan survey dari teman-teman, ternyata video gw sangat membantu dalam mengantar mereka tidur, bahkan di tempat yang seharusnya tidak mereka tiduri. So, for your maximum convinience, watch it on your bed.😀

Stepen – Cita-cita: Kameramen National Geographic

Dipublikasi di Cerita Petualangan Liar Saya | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Lombok Solo Trip : Being Street Smart

Pepatah sansekerta ada berkata, “Pergilah travelling sendirian dan kamu akan menemukan jati dirimu.”. Biasanya, gw ga percaya apa kata pepatah karena menurut gw, itu hanya mitos atau placebo effect belaka, tapi untuk pepatah yang di atas, gw harus akui kebenarannya. Tanggal 27 Juli sampai dengan 31 Juli kemaren, gw memutuskan buat pergi travelling solo ke Lombok dan gw belajar banyak hal tentang diri gw. Salah satu contoh hal yang gw pelajari adalah: Jam di Lombok lebih cepat satu jam daripada jam di Jakarta. Hal lainnya yang gw juga pelajari adalah: Gw tidak street smart.

Bagi yang ga tau apa yang gw maksud dengan street smart, oke, akan gw jelaskan. Street smart ini artinya pinter di jalan alias knowledge/attitude yang lo butuhkan untuk survive atau at least untuk tidak sampe ketipu dan dimanfaatkan orang, di jalan/lingkungan luar. Ini termasuk kemampuan untuk membaca situasi sampe ke kemampuan untuk melakukan gertak sambal. Misalnya, kalau ada orang yang tiba2 nawarin permen en ngajak kita masuk ke van yang mencurigakan, adalah street smart untuk tetap mengambil permen tersebut, tapi jangan masuk ke dalam vannya (Maklum, saya cina, ga mau rugi). Dan ya, bagi seseorang yang akan bepergian sendirian, being street smart adalah suatu kewajiban. Kenapa? Karena banyak sekali manusia2 culas di luar, terutama di daerah objek wisata, yang berusaha untuk menguras isi dompet kita dengan cara sehalus mungkin. Sayangnya, I am not that kind of ‘street smart’ guy and here is some stories of me being not street smart while in Lombok (cause nothing gets more view than the story of your own humiliation).

Gw berangkat dari Jakarta menuju Lombok dengan LionAir dan dengan selamat mendarat di Lombok jam 8an. Keluar dari terminal keberangkatan, gw pun, bak artis kelas dua yang baru dilanda isu poligami, langsung dikerubungi orang2 yang menawarkan travel ke Senggigi. Untungnya, sampe di sini, gw masih street smart. Gw ud tau kalo ada bus damri yang jalan tiap 90menit dengan harga yang aduhai murahnya, cuman 35rebu, ud gitu AC pula. So, gw pun langsung aj ngacangin para penawar travel yang di mata gw ud terlihat kaya rubah yang lagi memicingkan matanya sambil ngiler en gosok2 tangan dan pergi ke loket Damri yg posisinya ada di paling luar. Stepen 1, Lombok 0.

Dua jam kemudian, gw pun nyampe di Senggigi dan turun di gang otomotif buat check in Ressa homestay (I really recommend the place, it was cheap, cuman 150rebu sekamar berdua, dapet breakfast dan kamarnya oke, walaupun internetnya lelet, but hey, you don’t go there for the internet). Gw pun check in dan menghabiskan waktu kurang lebih 1jaman buat ngobrol2 sama karyawan homestaynya buat nyari tau soal angkot di daerah Senggigi. Dari pembicaraan tersebut gw pun tau klo angkot yg item bolak balik Senggigi en angkot yg kuning buat ke Mataram. Tarifnya paling mahal 5rebu. Sip, I am being street smart again. Stepen 2, Lombok 0. Hahahaha…

Beres naro barang di homestay, gw pun brangkat keluar untuk mencari dive center gw. Adapun dive center yg gw cari ini agak aneh, karena alamatnya adalah Jalan Senggigi KM9 dan entah kenapa semua org yg gw tanya ga pernah denger istilah KM dipake buat nunjukin tempat di Jalan Senggigi. So, secara tempatnya dive center ini agak2 ambigu dan juga secara di sepanjang jalan Senggigi ini juga ada cukup banyak spot yg bisa dikunjungi kaya Pura Batu Bolong, Pura Kaprusan, dll, gw pun memutuskan untuk jalan kaki menelusuri jalan Senggigi di tengah terik matahari, lumayan, sekalian ngitemin badan biar daki gw ga keliatan. So, pergilah gw jalan kaki menyelusuri jalan Senggigi. Sayangnya, 30detik kemudian iman gw goyah.

Entah akibat lagi ngantuk atau memang lagi error, baru 30detik gw berjalan, sesosok angkot pun lewat dan berhenti dan gw pun langsung kalah mental dan memutuskan untuk naek angkot tersebut. Keputusan yang akan segera gw sesali 30detik kemudian.

Pas gw naek angkot, ada satu orang lagi bapak2 penumpang yang membawa burung dara. That’s it, cuman kita berdua dan satu burung dara dalem satu angkot. Tak lama berjalan, 30detik kemudian, si bapak pun sampe di tujuannya dan nyetop angkotnya dan doi turun. Oke, nothing wrong here. Lalu, tiba2 aj, sang supir ikutan turun juga dan nyamperin si bapak buat nerima ongkos. Oke, nothing wrong here. Lalu, tiba2 aj, doi berpaling ke arah gw and this is where things went wrong dan berikut kira2 percakapan gw dengan sang supir angkot.

Supir (S): Wah, dek, abis gini cuma adek sendirian nih yang naek.
Gw (G): Iya nih, pak, asik deh bisa selonjoran (sambil senyum bloon).
S: Jadi gimana nih, dek?
G: Gimana apanya nih, pak? (Masih lemot)
S: Ya, adek kan cuman naek sendiri, jadi saya dibayar berapa nih?
Gw dalem hati (GDH): Eh, perkedel, dia minta duid tambahan rupanya.
Gw: 5000 bukan biasanya? (Masih berusaha untuk tampil street smart)
S: Tapi kan adek sendiri, 20rebu deh.

Nah, sampe di sini, seandainya gw bener2 seratus persen street smart, gw akan menjawab sebagai berikut:

G: Lah, kok begitu? Tadi si bapak itu juga sebelon saya naek juga sendiri, dia cuman bayar 5rebu. Mana ada ceritanya kaya begitu, pak, kan ntar juga ada lagi org laen yang naek. Kalo mau ngetem, silahkan, saya ga buru2 kok, tapi saya ga mau keluar lebih dari 5rebu. Sori ya, saya ini Street Smart!

Sayangnya, ini yang gw bilang ke si bapak:

G: Oke deh, pak, tapi anterin saya sampe Pura Batu Bolong yah. (Gw mencoba untuk tidak rugi dengan meminta dianterin ke tempat yang GW PIKIR jaraknya lumayan jauh.

Si bapak supir pun mengiyakan, doi balik nyupir, dan 30detik kemudian, kita pun tiba di Pura Batu Bolong. Gw bayar 20rebu, turun dengan muka kaya lg sembelit dan dengan berat hati harus gw umumkan skor sementara: Lombok 1, Stepen 2.

Beres dari muter2 en foto2 di Pura Batu Bolong, gw pun kembali keluar ke Jalan Senggigi untuk melanjutkan perjalanan gw mencari kitab suci dolphin dive center ke arah utara. Kali ini, gw berpegang teguh pada pendirian gw untuk tidak akan naek angkot lagi. Sayangnya, lagi2 iman gw goyah. Ga lama setelah gw jalan, ada angkot lewat dan gw liat isinya lumayan rame. Ada beberapa anak sekolah dan 2 ibu2 dengan keranjang super gede yang isinya adalah buah warna ijo yang bentuknya belon pernah gw liat sebelumnya. Secara angkot ini rame, gw berasumsi bahwa gw ga akan diculasin kaya tadi lagi, so dengan polosnya gw pun naek dan adapun rencana gw adalah naek angkot sambil merhatiin kiri kanan jalan dan turun tepat di depan dive center. Sayangnya gw lupa klo gw sipit dan gw punya track record buruk dalam mencari sesuatu dengan mata gw sendiri. Alhasil, gw pun melewatkan dolphin dive center yg sbnrnya terletak kurang lebih 80meter dari pasar seni Senggigi dan terus aj bablas ke arah utara.

Seiring dengan bablasnya gw ke arah utara, gw yang ga tau kalo gw ud melewati tempat tujuan gw pun dengan seksama memperhatikan sekeliling gw, berharap di suatu saat nanti akan terlihat papan tulisan dolphin dive center yang menandai akhir perangkotan gw. Satu per satu, penumpang yang laennya turun dan akhirnya tinggal gw sendiri di angkot ini. Untungnya kali ini si supir ga nyamperin gw buat minta bayaran lebih karena gw naek angkotnya sdran. Tapi setelah agak lama jalan terus ke utara dan ngeliat gw yang ga turun2, sang supir pun memberhentikan mobilnya dan nyamperin gw, dan berikut kira2 percakapan yang terjadi antara gw dan sang supir.

S: Mau ke mana, dek?
G: Ke Dolphin Dive Center, pak, masih jauh ga ya? Klo di website itu sih katanya Senggigo KM9.
S: Wah, saya kurang tau itu, tapi kalo ini mah ud bukan jalan Sengigi lagi.
G: (panik) Jadi gimana dong, pak?
S: Ya terserah adek mau gimana, tapu saya sih pengen puter balik. Mau narik lagi. Adek gimana?
G: (percaya kalau Dolphin Dive Center masih terus ke utara) Yawda deh, pak, saya turun di sini aj, bapak puter balik aj.

Dan gw pun bayar 5ribu dan turun di entah dimana di utara Senggigi. Desperate, akhirnya gw pun meneruskan perjalanan gw ke utara dan iseng nelpon dive center tersebut (kenapa baru telpon sekarang coba?). Dari pembicaraan tersebut, barulah gw tau kalo dive centernya ada di deket pasar seni Senggigi yang mana ud kelewatan jauh banget. Gw pun sempoyongan dan puter balik jalan ke arah selatan. Lombok 2, Stepen 2.

Sebenernya untuk perjalanan balik ke selatan, ke pasar seni, gw ud pengennya naek angkot aj karena kaki ud pegel en keringet ud mulai ga tertahankan. Namun ternyata tempat gw turun itu ternyata (loh, dua kali ternyatanya) ud cukup terpencil dan jarang angkot lewat. Gw pun akhirnya tau kenapa si abang supir angkot yg tadi mau puter balik. Alhasil, gw pun harus jalan kurang lebih 1jam sebelum akhirnya gw ketemu angkot yang mau menampung gw.

Panik dengan skor yang saat ini imbang 2-2, pas naek angkot pun gw nanya dengan jelas ke abang supirnya dan meminta agar gw dikasih tau klo ud di pasar seni Senggigi, biar ga kelewatan lagi. Si abang pun mengiyakan dan gw pun naek angkot, duduk manis sambil berharap agar gw bisa pulang ke homestay at least dengan skor imbang 2 sama ini. Sayangnya gw harus kecolongan gol di menit2 terakhir yang memaksa gw harus takluk di hadapan Lombok dengan skor 3-2. What happened in the last minute? Here goes the epic finale yang terjadi saat gw ud sampe di pasar seni dan mau bayar angkot.

S: (ngetok kaca, ngasih tau klo ud sampe pasar seni Senggigi)
G: (turun dari angkot dan nyodorin duid 5rebu ke sang supir)
S: (ngeliat duid gw) No, sir, ten, sir, ten…
G: Bahasa Indonesia aj, pak, saya ga ngerti bahasa inggris (malu karena sang supir bahasa Inggrisnya lebih bagus daripada gw).
S: sepuluh ribu, dek.
G: Hah? Biasanya kan 5rebu, pak. (Gw mencoba untuk street smart)
S: Kan biasanya, ini kan baru abis lebaran, jadi 10rebu.
Gw dalem hati: Lah, apa hubungannya sama abis lebaran? Bapak seenak2nya aj naekin harga. Salah sendiri pas lebaran diabisin semua duidnya. Makanya, diatur dong.
Gw: (pasrah dan ngasih 10rebu) Yawda deh, makasih ya, bang…

Dan hari pertama gw di Lombok pun officially ditutup dengan kekalahan tipis 3-2. Untungnya turun dari angkot, gw lgsg ketemu dive centernya en ngomongin divingnya en semuanya lancar. Beres dari situ, gw lgsg balik ke homestay buat tidur 18jam demi persiapan diving, secara hari itu gw kurang tidur gara2 pesawatnya kepagian. So, all in all, yah, hari pertama gw di Lombok noT badlah, walaupun total rugi bandar 20rebu dari ngangkot.
Stepen – Not So Street Smart.

Dipublikasi di Cerita Petualangan Liar Saya | Tag , | 2 Komentar

Balada Moving On: The Epic Finale

Wow, tak terasa sudah genap setahun gw menjalani hidup gw sebagai seorang jomblo. Delapan Agustus ini adalah perayaan setaon jatuhnya bom atom ‘kita udahan aj yah’ yang dilemparkan sang mantan via line message. Yeah, I know, tragic. Tapi secara ini ud  setaon dan menurut pedoman besar move on ala anak gaul dan berdasarkan trend statistik fungsi antara lama waktu jadian dengan waktu yang dibutuhkan untuk move on adalah asimtotik terbolak-balik (bayangkan sendiri bentuk grafiknya), ini berarti udah saatnya bagi gw untuk move on beneran dan menulis sebuah finale yang epic untuk seri balada move on. Yup, dan setelah merenung selama beberapa detik sembari nyabutin jenggot, gw pun memutuskan untuk menulis tentang dompet gw untuk finale balada moving on ini.

KIMG0058KIMG0059

Dompet? Kenapa dompet gw? Simple, karena dompet merah merona busuk yang saat ini gw pake tak lain tak bukan adalah dompet pertama dan mungkin terakhir gw. Yup. Gw inget banget dompet ini gw beli kalo ga salah pas smp kelas 3. Waktu itu, adalah syarat wajib bagi anak gaul yang ud akil baliq untuk menyatakan ke-akilbaliq-annya ke seluruh dunia dengan memiliki dompet merk Planet Ocean. Alhasil, di suatu weekend yang cerah, gw pun pergi ke lippo supermall (Waktu itu cuman ada lippo supermall, belon ada mall2 yg laen) untuk menggenapi takdir gw dengan ngebeli dompet Planet Ocean berwarna merah dengan tulisan Max Cross yang ujung2nya menjadi sumber inspirasi email alay gw: zerocross_raptor. Adapun kata raptor gw pilih karena gw suka memasak.

Tentu saja, seiring dengan berjalannya waktu, dompet gw pun ikut termakan usia. Warnanya jadi merah bule gara2 kebanyakan kena keringat asam gw. Resletingnya ud lepas di sana sini. Busanya ud keluar2 semua. Plat Planet Oceannya ud karatan. Dan yang terpenting, baunya juga ud ga tahan minta ampun, mungkin akibat terlalu lama digencet sama bokong gw setiap harinya. But then, it still does its job well dan somehow gw ga merasa ada urge untuk beli dompet yang baru walaupun dompet gw ud busuk dan mungkin tidak layak pakai bagi beberapa orang, nyokap salah satunya. Padahal, gw juga ga punya nilai sentimentil apapun terhadap dompet ini dan tidak terikat kontrak apapun dengan Planet Ocean (tapi klo mau diendorse sih ga nolak). Klo memang ilang, ya gw pasti minta mama beliin beli yang baru sih. Lantas kenapa gw masih make dompet ini? Mungkin jawaban yang paling tepat adalah karena ud ada, yawdalah, make the best of it (Percayalah, ini ga ada hubungannya dengan sifat pelit gw).

So, one night, one starry starry night, gw pun nganggur dan memandangi dompet gw yg ud usang and it leads me to this question: “Kenapa hubungan gw dengan NdudBanget ga bisa bertahan, kaya dompet gw? Or maybe the one that I really want to know is: “Kenapa NdudBanget memutuskan untuk membeli dompet baru?”

Hubungan gw dengan NdudBanget emang ga bisa dibilang perfect. We had our problems (yang mana kayanya sebagian besar berasal dari gw dan ketidakmampuan gw untuk gosok gigi 2x sehari), but somehow I think this works, sama seperti dompet gw yang ud enggak banget penampakannya, tapi tetap setia menjaga duid2 gw agar tidak hipotermia. We had our fun times and our crazy time (bayangkan gw ngetik kalimat ini sambil nangis en nyedot ingus) and we also had our tough times. Why it does not work? Dan gw pun mulai masuk ke dalam mode cenayang, thinking about all those ‘ifs’ and started blaming myself. Dan gw pun masuk ke dalam mode denial yang mana dalem mode ini, I shamelessly asked her to get back with me, twice, although she already had a new suitor and I am aware of that. Sayangnya gagal. Gw ud terbiasa ditolak cewe selama 10 taon gw mengarungi lautan asmara sampe baal, but for this time, it hurt (hurt itu past tense-nya hurt juga bukan yah?).

So, setelah dengan memalukan sambil ingusan dan belekan memohon sembah sujud agar doi mau balikan untuk kedua kalinya dan ditolak, gw pun finally decided to take a friend’s advice: cut all ties with her. Advice yg awalnya menurut gw adalah sangat childish (ceritanya sok dewasa), tapi akhirnya gw lakukan juga (hahaha). I even went as far as hiring my friend to remove all her pictures from my facebook album and untagged me from her album (Terima kasih, Angela, upahmu besar di surga). And to this day, we are officially a stranger (Gw yakin ada yang salah dengan grammar kalimat ini).

Waktu pun berjalan dan gw dan NdudBanget pun melanjukan kehidupan kami masing-masing, sendiri-sendiri, doi dengan dompet baru doi, gw masih dengan dompet lama gw, hanya saja, dompet gw skrg kosong. That ‘question’ still persists in my heart until now, tapi gw sadar gw pikirin sampe botak juga jawabannya ga akan keluar (On unrelated note: gw belon botak yah, maksudnya, skrg emg lg botak sih, tapi botaknya botak manual, bukan botak automatis karena faktor umur, ngerti kan? Oke!). So, dengan mengucap syahaduts, I decided to let go and just embrace the fact that she had already decided to buy a new wallet and it is done already and nothing can be done to change that and the sun sets in the west.

So, NdudBanget, if you somehow ngebaca tulisan gaul yg super mengharukan ini, I just want you to know that I am not blaming you for all of this (kecuali waktu kamu). Thank you for the great four years and last but not least, I just want to tell you that I have 100% moved on (bangga, walaupun sebenernya telat banget, hahaha). Biar closingnya keren, perbolehkan gw menutup dengan quote yg super fantastis yg memengkakkan hati dan jiwa, supaya cewe yang baca terharu dan menganggap gw romantis, yah itung2 sekalian tebar pesona. So, here goes:

We may be strangers now but I will always cherish the time we spent together even after I find someone new (assuming there is someone dump enough for me to date) cause you made me a better man and a professional sausage plastic peeler.
Stepen – Ud 100% Move On

Dipublikasi di Balada Moving On | 3 Komentar

Stepen Goes To China Bonus Edition – China’s Grape Softdrink: Grape Soda

Sebenernya, postingan ini harusnya gw tulis 4 bulan yang lalu, kira-kira pas gw baru saja pulang dari dinas di negeri negara Tiongkok. Akan tetapi, karena satu dan dua dan tiga hal yang lainnya, postingan ini baru ditulis sekarang. Tapi jangan kuatir, walaupun terlambat, bukan berarti, kualitas postingan ini berkurang. Bahkan, ibarat anggur yang didiemin di dalem tanah biar harganya makin mahal, postingan ini juga bakal terasa berkali-kali lipat serunya karena ud dipendam begitu lama di dalam hati kecil gw. Oke, sekian intermeso ga pentingnya, mari kita langsung to the point.

Gw rasa, semua orang sudah tau bahwa gw adalah penggemar berat Chelsea Islan dan juga softdrink. Ya, gw sangat suka dengan softdrink, bahkan saking sukanya, di KTP gw, golongan darah gw adalah tertulis: Coca-Cola Zero. Dan, tentu saja, saat gw dapet kesempatan berlibur tugas dinas ke China adalah wajib hukumnya bagi gw untuk berburu soft drink khas negeri panda tiongkok, mencobanya, dan menyebarkan hasil evaluasi dan analisis gw ke khalayak banyak. So, di hari minggu yang mana harusnya gw disuruh masuk kantor tapi ga jadi gara2 seragam pabrik gw ud kumel kaya gembel jadi gw disuruh stay di hotel buat nyuci seragam sampe bersih sambil senam lantai (Wiuh, panjang yah, ambil napas dulu), gw pun badung dan memutuskan buat pergi ke supermarket yang disebut RT Mart yang berjalan kurang lebih 15menitan dari hotel tempat gw tinggal.

Di RT Mart, gw pun masuk, makan KFC, maen dingdong (played Razing Storm in chinese), dan akhirnya pergi ke lantai super market yang mana adalah 3 lantai paling atas untuk berburu softdrink sekaligus nyari Oreo. Kenapa Oreo? Entahlah, saat itu, gw tiba-tiba ngidam Oreo. Eniwei, setelah muter2 cukup lama (baca: sedikit nyasar) di lantai supermarket, gw pun akhirnya menemukan 2 soft drink gaul yang cukup menarik perhatian gw yang akhirnya gw beli bersama dengan Oreo dan M&M ukuran jumbo. Apa saja kedua softdrink tersebut? (Drumroll) and here it is: Smart dan Miranda (PS: Mereka bukan pasangan kekasih).

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Tau darimanakah gw kalo tulisan kanji yang seliweran itu dibaca Mirinda dan Smart? Gampang, tau dari sisi sebaliknya. Berikut gw tampilkan tampak belakang kedua soft drink tersebut khusus bagi mereka yang ga bisa baca tulisan kanji.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 Oke, tanpa basa-basi, here it is my review:

1. Mirinda Anggur

Sebenernya, merek Mirinda ini ada baik di Jepang maupun di Indonesia. Ya, gw inget ada Mirinda di Indonesia setiap kali gw makan KFC dan pesen paket super besar, adalah ritual gw untuk mengucapkan doa singkat di depan kasir KFC untuk meluapkan rasa syukur gw. Adapun isi doa singkat gw adalah sebagai berikut:

“Mbak, Pepsinya diganti Mirinda merah yah, please (sambil kedip2 dengan frekuensi 100Hz)”

Walaupun demikian, gw sangat yakin dan kalau ga salah inget gw yakin kalo ga ada Mirinda rasa anggur di Jepang ataupun Indonesia. So, in the name of science, gw pun tanpa pikir ranjang panjang langsung memasukkan Mirinda Anggur ke dalam keranjang belanjaan gw.

Dari segi harga, gw ud lupa berapa harganya Mirinda anggur ini. Maklumlah, ud 4 bulan yang lalu. Dari segi rasa, juga gw ud lupa secara ud 4 bulan yang lalu dan daya inget gw hanyalah sepanjang daya ingat ikan mas koki. Alhasil, gw pun lupa sama sekali perasaan dan sensasi yang gw rasakan saat meneguk Mirinda anggur ini. Walaupun demikian, gw tidak mengingat adanya rasa kecewa atau bete gara-gara rasa minuman ini ga sefantastis yang gw bayangkan, walaupun demikian, gw juga ga inget ada kesan yang begitu impresif sampe gw niat buat nulis review tentang Mirinda Anggur ini pada hari h saat itu juga. So, berdasarkan analisis barusan, gw bisa simpulkan kalo soft drink ini: Biasa Aj! (Ala Danang en Darto).

2. Smart

Sebenernya, merek smart ini gw sempet meragukan. Kenapa? Karena sebelon gw berangkat ke China, gw sempet ditakut-takutin temen gw tentang maraknya makanan palsu di China, mulai dari nasi palsu, daging palsu, sampe ke janji palsu. Gw pun sempet parno dan alhasil jadi skeptik terhadap semua brand di China yang gw belon pernah denger sebelonnya. Jadi, gw pun sempet muter2 selama kurang lebih 10 menit buat mikir2, beli enggak ya, beli enggak ya, sampe akhirnya gw kejang-kejang. Namun ternyata rasa cinta gw terhadap dunia persodaan mengalahkan ketakutan gw akan barang-barang palsu dan akhirnya (Klo bahasa inggrisnya: Ultimately), gw pun beli soft drink Smart ini.

Sama seperti Mirinda Anggur, gw juga lupa harga, rasa, dan kesan dan sensasi yang gw dapatkan saat minum soft drink ini. So, in a way, bisa disimpulkan kalo soft drink ini biasa aj. Tapi, ada satu hal yang gw inget banget dari soft drink ini. Gw inget banget pas gw pertama kali ngebuka botol Smart ini. Waktu ini, gw ud di kamar hotel en lagi nyetel pelem Edge of Tomorrow-nya Tom Cruise en Emily Blunt (love the movie btw). Waktu itu, adegannya lagi si Emily Blunt lagi ngebelakangin ledakan sambil bilang ke Tom Cruise: “Come find me when you are awake” dan Tom cruise pun mati ter sapu ledakan bersama Emily Blunt, namun Tom Cruise terbangun kembali di hari saat ia baru saja dipindahkan k bagian infanteri. Ia mengungat semuanya seolah ia telah mengalaminya sendiri, namun satu hal yang ia tahu dengan pasti, apa yang ia lihat baru akan terjadi 24 jam lagi.

What, okey, gw kehilangan fokus. Back to topic, jadi intinya, film the Edge of Tomorrow ini bisa dibilang mirip dengan Groundhog day dimana sang tokoh utama terus menerus terperangkap dalam hari yang sama, namun di kemas dalam dunia science fiction militer. Film ini diadaptasi dari komik Jepang yang berjudul “All You Need is Kill” walaupun dari sisi jalan cerita, Edge of Tomorrow benar-benar berbeda dari komik “All You Need is Kill”. Di dalam komik, karakter Rita yang diperankan oleh Emily Blunt pada akhirnya harus bertarung dengan karakter utama untuk dapat lolos dari “looping”, sementara di film, karakter Tom Cruise kehilangan kemampuannya untuk ‘melihat ke masa depan’ akibat transfusi darah. Personally, I really like both the movie and the book, but I feel like the final ending of the movie version was kinda softened to grab more audience. In a way, I dont even know what I the hell am I writing about, so I am gonna stop here.

Stepen – Hilang Fokus

Dipublikasi di Cerita Petualangan Liar Saya | Tag , | 1 Komentar

Zombie Apocalypse: Nakadai Story Episode 3

Stepen berjalan menaiki tangga dengan lemas. Lantai satu dan lantai dua gedung A, satu per satu telah ia coba ketuk dan buka, namun seluruh pintu terkunci dan tak ada jawaban dari ketukan ataupun teriakan ‘sumimasen’ yang ia lontarkan tidak terlalu keras agar tidak menarik perhatian. Ia pun tidak berharap banyak untuk menemukan seseorang di lantai 3, namun ia tetap memaksakan dirinya.

Sesampainya ia di lantai tiga, ia langsung berjalan melewati 4-5 kamar dan melesat langsung menuju kamar nomor 310. Ya, ia teringat akan Alvi, kawannya yang tinggal di lantai 3. Sepengingatannya, Alvi juga baru saja patah hati dan di pembicaraan terakhir, Alvi sempat mengatakan bahwa ia mungkin tidak pulang ke Indonesia. Sekali lagi, Stepen pun kembali berharap, namun lagi-lagi ia harus kecewa. Pintu kamar terkunci rapat dan Alvi bukanlah orang yang suka mengunci kamarnya, bahkan pada saat ia pergi keluar dari dorm. Ia sangat percaya akan kejujuran orang Jepang dan sangat yakin bahwa tidak akan ada orang yang masuk ke kamarnya untuk mengambil sesuatu. Jikalah ada, itu adalah Stepen sendiri.

Stepen pun berjalan balik ke arah pintu tangga dan mulai mengetuki pintu kamar satu per satu secara berurutan dari tangga. Bahkan di dalan keadaan seperti ini pun ia masih menyerah kepada OCDnya.

***

Stepen berdiri di depan pintu lorong lantai 4 yang terkunci dengan pin elektronik. Ia tak seharusnya berada di lantai ini karena ini adalah lantai khusus kamar wanita. Laki-laki dilarang naik ke lantai ini dan lantai 5 dan sebuah kamera pengawas terpasang di depan elevator untuk memastikan hal itu. Ia mencoba mengintip dari jendela pintu dan mendapati lorong yang kosong. Ia pun memutar kepalanya, memikirkan apa yang sebaiknya ia lakukan. Hatinya berharap ada seseorang dibalik pintu yang terkunci ini yang bisa menemaninya melewati neraka ini namun logika mengingatkan dirinya bahwa kemungkinan itu sangat kecil. Ia pun dengan iseng menekan tombol pin pintu tersebut, mencoba peruntungannya.

1, 2, 3, 4…

Dan bunyi ceklik pun membelalakkan matanya sekaligus melukiskan senyuman di wajahnya. Siapa yang sangka pin untuk gerbang lantai 4 hanyalah 1234. Dengan perlahan, ia pun memutar knob dan membuka pintu tersebut.

Ia pun langsung melakukan rutinitas yang telah ia lakukan di lantai 1, 2, dan 3: mengetuk pintu setiap kamar dan berharap ada seseorang yang masih tinggal di asrama. Namun setelah lima pintu pertama tidak memberikan jawaban apapun, ia pun kembali mempercayai logikanya dan meragukan hatinya. Ia pun beranjak ke pintu berikutnya, pintu nomor 406, mengetuk pintu kamar tersebut sambil berteriak ‘sumimasen’. Dan setelah beberapa kali mengetuk dan memanggil, ia pun mendengar suatu suara dari balik pintu. Ia pun mengetuk lebih keras lagi dan berteriak ‘sumimasen’ sedikit lebih keras lagi. Suara langkah kaki pun terdengar mendekati pintu dan Stepen pun tersenyum. Ia mundur satu langkah dari pintu, seolah ingin memberikan jarak pada wanita yang akan membukakan pintu tersebut untuknya. Dari posisinya berdiri saat ini, ia memperhatikan celah pintu dan melihat ke arah slot kunci, menanti saat dimana kunci pintu kamar tersebut dibuka. Sayangnya, yang ia dapat adalah bunyi benturan ringan dari balik pintu.

Stepen pun kaget dan refleksnya membuat ia melontarkan kata ‘daijoubudesuka?’. Tak ada jawaban.

Ia melangkah mendekati pintu kamar 406 perlahan-lahan, menyandarkan tangannya ke pintu dan mengulangi kata ‘daijoubudesuka?’. Masih tak ada jawaban. Yang ia dengar hanyalah suara nafas yang tak berirama dari balik pintu tersebut.

Raut wajah Stepen pun berubah dan ia mulai gemetar. Ia tahu siapa, atau apa yang ada di balik pintu itu. Namun hatinya seolah menolak untuk mempercayainya. Masih membeku di depan kamar 406, aroma tak sedap mulai menghampiri hidungnya, seolah memberikan satu lagi tanda bahwa dugaan ia benar, namun ia masih menolak untuk percaya. Ia pun menutup hidungnya dengan tangan kirinya, mengeluarkan pisau lipat dari kantong depan tas carriernya dan memegangnya dengan tangan kanannya lalu sekali lagi bertanya, ‘daijoubudesuka?’.

Suara hantaman ringan dari balik pintu pun terdengar, seolah menjawab pertanyaan Stepen sekaligus mengagetkan dirinya dan membuat ia mundur selangkah dari pintu. Kini, suara gesekan terdengar dari balik pintu menemani suara nafas yang sesekali diselingi erangan yang ringan. Stepen pun menelan air ludah sembari menahan aroma tak sedap yang semakin menusuk hidungnya. Ia pun mengumpulkan segenap keberanian yang ia miliki dan menorehkan tanda silang yang cukup besar pada pintu kamar 406 dengan pisau lipatnya. Tak lama, ia pun berlalu berjalan memeriksa pintu kamar selanjutnya, sambil sesekali mengalihkan pandangannya ke kamar 406, memastikan pintu kamar masih tertutup rapat.

***

Stepen berjalan mendekati pintu masuk lobby, berusaha untuk memantau keadaan dari balik kaca tipis yang memisahkan lobby asramanya dari dunia luar. Sebercak cairan kental berwarna merah menempel di ketinggian matanya, mengingatkan ia akan apa yang ia lihat pagi tadi saat membeli sekaleng pepsi dari vending machine. Kali ini, ia tidak melihat apapun sepanjang mata memandang, namun pemandangan kosong itu justru memberikan rasa khawatir tersendiri bagi dirinya. Sekali lagi, ia menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan, mencoba mendapatkan pandangan yang lebih baik dan melihat ke balik sudut mati pandangannya. Setelah kurang lebih 5menit tertegun di depan pintu masuk lobby, ia pun mengeluarkan dompet yang dari kantung celananya, membuka kunci pintu lobby dengan NFC card yang ia sematkan di dalam dompetnya dan perlahan membuka pintu masuk lobby. Untuk terakhir kalinya, ia menoleh ke belakang, menelan air ludahnya, dan memantapkan dirinya keluar dari asrama.

fin

Dipublikasi di Zombie Apocalypse | Meninggalkan komentar