The Aero Girls – Chapter Two

Sari’s Story – No boys no cry

 ***

Huah, masih jam 15.30, masih ada 1 1/2 jam lagi menuju pulang kantor. Entah kenapa waktu selalu berasa lambat banget waktu ga ada kerjaan. Yah, apa boleh buat, terpaksa Plant vs Zombie lagi deh buat ngabisin waktu. Daripada bengong-bengong ga jelas, mendingan maen.

Aku mengambil mouse-ku dan men-double click game Plant vs Zombie yang diam-diam kuinstall di komputer kantorku sambil melihat sekeliling. Pak Imor, supervisorku belum kembali ke ruangan. Bused, lemot amat ni komputer. Sebelum loadingnya selesai, aku mendengar suara langkah kaki mendekati ruanganku. Dengan sigap, aku menekan tombol alt+tab dan membuka beberapa file pekerjaan sebagai kamuflase.

Ah, ternyata Inez…

***

Aku berjalan meninggalkan kompleks perkantoran PT Aeronotika Jaya bersama Inez dan Dyah. Sepanjang perjalanan, Inez menceritakan kencannya kemarin dengan Jay dengan wajah yang berseri-seri. Memang rada membosankan, tapi apa boleh buat. Terpaksa pura-pura menyimak dan merespons ‘Ooo’, ‘Oh ya?’, dan ‘Terus?’ setiap kali Inez berhenti untuk mengambil nafas.

Kurang lebih 1/2 jam Inez cerita. Intinya adalah mereka ketemuan, terus nonton bareng, trus makan bareng, terus pulang. Sama seperti kisah kencan standar Inez dengan Jay yang sebelum-sebelumnya. Ketemu-nonton-makan-kenyang-pulang. Yang beda paling cuma lokasi kencan. Sisanya, semuanya sama persis. Akan tetapi, bagi Inez, setiap kencan seolah sebuah cerita telenovela baru. Mungkin kalo tiap kisah kencannya Inez dibikin sitkom, bisa nyaingin How I Met Your Mother.

Setelah selesai Inez cerita, Dyah menyambung dengan cerita tentang kencan online-nya dengan Ardy, pacarnya yang sekarang kuliah di Korea. Intinya juga sama dengan kencan online standar Dyah yang sebelumnya, log in, webcam-an, chatting, log out, shut down. Akan tetapi, juga sama seperti Inez, setiap kencan seolah adalah cerita baru. Untungnya parkiran motor sudah dekat.

***

 Aku memarkirkan motorku dan berlari menuju lab dinamika fluida komputasional. Aku harus mengambil bahan thesis yang kutinggalkan. Saking tergesa-gesanya, aku tak sengaja menabrak seseorang. Oh, tidak, ternyata Tio yang kutabrak. Oh, tidak, dari semua orang yang ada di kampus, kenapa harus dia? Matilah…

“Sori, ga sengaja…”

“Eh, Sari, kamu ga pa pa? Ngapain ke kampus?”

“Sori, kak, buru-buru, takut lab ud keburu ditutup.” Dengan cepat aku berlari meninggalkan Tio.

Tio adalah mahasiswa S2 teknik mesin. Kami berkenalan kira-kira satu tahun yang lalu, waktu itu, Tio membantu Inez menyelesaikan tugas akhirnya. Semuanya dengan Tio fine-fine saja sampai pada akhirnya Tio mengungkapkan perasaannya padaku. Setelah Inez menyelesaikan tugas akhirnya, tiba-tiba Tio datang ke rumahku, membawa seikat bunga dan gitar, lalu ia menyatakan cintanya padaku sambil menyanyikan lagu ‘Sempurna’. Aku langsung menolaknya pada saat itu juga.

Well, sebenarnya tidak ada masalah dengan Tio. Ia soleh, pekerja keras dan cukup menyenangkan. Mungkin sebenarnya masalah ada padaku. Aku sama sekali belum kepikiran untuk memulai hubungan yang serius dengan laki-laki. Aku lebih nyaman dengan hubungan yang disebut sahabat, dibandung ikatan yang disebut pacar. Aku tidak butuh sensasi-sensasi cinta seperti Inez, Dyah, atau Della. Aku hanya butuh teman dan sahabat untuk bersenang-senang.

Sejujurnya, setelah Tio menyatakan perasaannya, aku berharap kita masih dapat berteman. Sayangnya Tio melakukan hal yang di luar dugaan. Tio menemui Steve, salah satu temanku dan mengancamnya untuk menjauhiku. Bahkan Tio nyaris melemparkan pukulan ke arah Steve ketika ia mendapati aku berjalan bersama Steve. Inilah kenapa aku memilih untuk tidak berhubungan dengan siapa-siapa dulu.

***

Fiuh, akhirnya aku sampai dirumah. Aku langsung merebahkan tubuhku di kasur. Sambil meluruskan kakiku, aku mengecek HP-ku. Ada satu sms masuk, dari Tio.

“Sari, tadi ngapain ke kampus? Sombong amat!”

Oh tidak! Aku langsung menghapus pesan itu dan memejamkan mataku, mencoba untuk tidak menambah beban pikiranku dengan masalah Tio.

~fin~

Pos ini dipublikasikan di Cerita Serius dan tag . Tandai permalink.

9 Balasan ke The Aero Girls – Chapter Two

  1. linkse berkata:

    memang imajinasi lu patut diacungi jempol! 4 thumbs up!

  2. riki nindya berkata:

    kok gak ada adegan inez and sari rebutan tio??=D
    hahahahah…

    pada akhirnya sari tetap menetapkan hatinya untuk opi….

  3. hicha berkata:

    kayaknya sari disini lebih mirip elo daripada eling pen.. :))

  4. chella kerennian berkata:

    Gmn kalo lo bikin cerita ttg “tertolak sblm pnembakan..”..??ide bagus kan??ƗƗɐƗƗɐ “̮

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s