The Aero Girls – Chapter Three

Della’s Story – There always first time for everything

***

Aku menutup laptopku dan beranjak ke kasur. Kata-kata Yanto terus menggema di dalam telingaku. Ahhh, aku menggeleng-gelengkan kepalaku kegirangan sambil mencubit pipiku. Ah, sakit, ini bukan mimpi. Aku benar-benar ditembak. Ahhh… Aku menutup mataku, mencoba mengingat kembali kejadian tadi sore.

***

Sore itu, kami janjian untuk bertemu di bakso Mandep dan makan bareng. Aku menunggunya selama 15 menit di depan tenda bakso Mandep sambil merapikan rambutku. Setelah ia sampai, kami langsung memasuki tenda bakso Mandep dan langsung menyantap bakso kesukaan kami itu. Tidak ada tanda-tanda sama sekali bahwa Yanto akan menembak aku.

Sore itu, Yanto menghabiskan 3 mangkuk bakso seperti biasanya dan seperti biasanya, rasa gengsi mengalahkan rasa laparku dan aku hanya menghabiskan 1 mangkuk bakso. Hanya Sari dan pak Mandep yang tahu bahwa biasanya aku bisa menghabiskan 4 mangkuk. Entah kenapa aku merasa bahwa Yanto tidak akan menyukai wanita bernafsu makan besar seperti Inez dan aku pun mau tidak mau menjaga porsi makanku setiap bersamanya.

Seusai makan, Yanto menemaniku berjalan pulang ke kosanku. Sejujurnya, aku lebih memilih untuk pulang dengan naik angkot, tapi aku terlanjur mengumbar kepada Yanto bahwa aku lebih menyukai jalan kaki daripada naik angkot, seperti dirinya. Dengan perut yang tidak terlalu kenyang, terpaksa aku berjalan kaki ke kosan. Yah, setidaknya aku tidak sendirian, ada Yanto yang menemaniku.

Sesampainya di depan kosan, sejenak obrolan kami terhenti. Aku menatap wajahnya sejenak, sebelum aku merasa malu sendiri dan memalingkan wajahku darinya.

“Kamu kenapa?”

“Enggak, gapapa, yawda yah, aku masuk yah.”

“Eh, tunggu dulu, Del…”

“Kenapa?”

“Ummm, aku ga tau sih gimana ngomong. Ummm, intinya, aku kayanya ada feeling deh sama kamu. Kamu mau ga klo kita jadian?

“Haaaaahhhh….”, ucapku dengan nada agak ketus sambil menyembunyikan senyum di bibirku, “Serius lo?”

“Iya, aku serius. Gimana?”

Hatiku melompat kegirangan mendengar kata-kata Yanto barusan. Aku benar-benar tidak menyangka Yanto akan menembakku. Ahhh, ini seperti mimpi. Aku ingin sekali menjawab ‘iya’ dan memeluknya. Akan tetapi, justru kata-kata lain yang keluar dari mulutku.

“Ummm… Duh, gimana ya? Aku ga harus ngasi jawaban sekarang kan? Boleh aku pikir-pikir dulu ga?”

“Ummm… Oke, aku pulang yah… Dadah…”

“Dadah…”

***

Setelah bisa mengendalikan rasa girangku yang tak tertahankan, aku mengambil HP-ku. Aku rasa sudah saatnya aku menjawab pertanyaan Yanto. Aku mencari nomor Yanto di HP-ku dan mengiriminya sms.

Yan, aku mau jadian sama kamu.

SEND dan akupun jadian untuk pertama kalinya.

~fin~

Pos ini dipublikasikan di Cerita Serius dan tag . Tandai permalink.

Satu Balasan ke The Aero Girls – Chapter Three

  1. linkse berkata:

    jadi lu jadian lewat sms Del?? hahaha..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s