PIV 101 – Menguras Air

Gw adalah seorang eksperimentalis (bukan elementalis ataupun enviromentalis, apalagi gitaris). Demi memenuhi rasa ingin tahu gw, gw seringkali melakukan suatu eksperimen. Gw masih inget, waktu gw kecil dulu gw bereksperimen dengan menempelkan permen karet di rambuk adek gw yg lg tidur dan melihat gradien reaksi nyokap gw terhadap waktu. Hasil dari eksperimen ini: Gw dikeluarin dari rumah en adek gw pun terpaksa dipitakin (Asoy!). Eniwei, ternyata hingga beranjak dewasa pun, jiwa eksperimentalis gw tidak juga hilang. Oleh karena hal inilah, gw pun memilih jalur eksperimentalis untuk studi gw. Adapun eksperimen yang gw lakukan adalah PIV alias particle image velocimetry (Untuk tahu lebih jelasnya mengenai PIV, silahkan baca papan pengumuman). Nah, dalam postingan kali ini, gw akan mencoba men-share kejeniusan dalam melakukan eksperimen yang baru saja terjadi kemarin siang. Berikut ceritanya:

Ceritanya, di lab gw, PIV dilakonin make akuarium dengan air di dalamnya. Untuk mencegah jatuhnya korban DBD di lab gw, akuarium ini dikosongin waktu ga dipake en cuman diisi klo lg maw eksperimen PIV atau klo gw lg maw mandi (Akuariumnya gede). Adapun salah satu kolega satu lab gw, Setyo Nugroho, akan melakukan eksperimennya. Gw tentu saja sebagai rekan sejawat, membantu doi melakukan eksperimennya.

Ceritanya, si Setyo ud ngisi akuariumnya pake aer. Tapi, karena suatu hal dan lainnya, aernya harus dikuras. Setyo yang masih cupu dalam hal eksperimen pun bertanya kepada gw yang fantastis ini mengenai cara menguras aer dari akuarium. Cara yang paling gampang en paling melelahkan, tentu saja dengan ngegayungin aernya ke ember trus aer di ember dibuang entah kemana. Namun, karena kami adalah anak penerbangan dengan intelektualitas yang tinggi, cara ini terlalu bodoh untuk kami lakukan. Gw pun menganjurkan Setyo untuk memanfaatkan tekanan untuk menguras aer dari akuarium dengan sendirinya menggunakan selang. Berikut adalah langkah-langkah yang gw terangkan kepada Setyo:

  1. Ambillah selang, celupkan salah satu ujungnya ke dalam aer akuarium dan pasangkan ujung lainnya ke keran aer.
  2. Nyalakan keran aer, namun jagalah ujung selang yang satunya agar tetap berada di dalem aer akuarium. Ketika keran pertama kali dinyalakan, gelembung akan keluar dari selang yang ada di akuarium, teruskan sampai tidak ada gelembung yang keluar
  3. Ketika sudah tidak ada lagi gelembung yang keluar, cabutlah selang yang di keran tanpa mematikan kerannya Voila, dan aerpun tersedot keluar lewat selang. Fantastis bukan?

Cara ini pernah gw praktekkan dulu ketika gw S1. Sayangnya, entah kenapa, ketika Setyo mempraktekkan cara ini, semuanya gagal. Gw ud mencoba melakukannya dan juga gagal, pdahal uda dicoba berkali-kali. Untunglah, kami adalah engineer. Jika satu cara gagal, kami akan mencoba cara lainnya. Kami pun googling cara menguras aer dari akuarium. Kami menemukan cara lainnya untuk menguras aer. Kira2 begini langkahnya:

  1. Tutup kedua ujung selang dengan jempol anda
  2. Celupkan satu ujung selang ke dalam aer akuarium
  3. Buka kedua jempol anda dan aer pun akan mengalir keluar dari akuarium lewat

Sayangnya, cara ini juga gatot alias gagal total. Kami pun mulai berpikir dan memutar otak untuk menemukan cara lain untuk menguras kolam, namun semuanya gagal. Mulai dari metode botol akua yang diputer-puter sampe metode yang berbau mistis, semuanya tetap gagal. Akhirnya, kami terpaksa kembali ke cara konvensional, yakni menyedot aer dari akuarium pake selang ampe aernya ngucur sendiri.

Ibarat pemain cadangan yang akan dimasukkan ke pertandingan, gw pun melakukan pemanasan ringan sebelum melakukan atraksi sedot maut ini. Kenapa disebut sedot maut? Karena selang yang kami gunakan panjangnya sekitar 500meter. Legenda menyebutkan bahwa dia yang berhasil menyedot aer dengan menggunakan selang ini, adalah reinkarnasi dari dewa sedot dan dia akan dikaruniai istri dengan bibir yang paling eksotik.

Gw pun menarik nafas dalam-dalam dan mulai melakukan aksi sedot-menyedot. Setelah kurang lebih 30menit melakukan aksi sedot-menyedot, gw pun terkapar kehabisan nafas, padahal aernya belon sampe mengucur keluar. Terpaksa, Setyo pun menggantikan gw. Sayangnya, Setyo pun ternyata sama lemahnya kaya gw dalam hal sedot-menyedot dan merayu wanita. Kami pun terkapar dan meratapi nasib kami yang tidak mampu menguras aer dengan memanfaatkan tekanan, namun terlalu gengsi buat nguras manual pake gayung. Alhasil, Setyo pun mulai menulis surat pengunduran dirinya dari S2 ITB sementara gw mulai mencari-cari topik thesis lainnya yang tidak berhubungan dengan kuras-menguras ataupun sedot-menyedot.

Untunglah, di saat semua harapan nampak sirna, datanglah Starly Nope, manusia fantastis yang belum lulus S1. Kami pun meminta pertolongan Nope buat melakukan aksi sedot-menyedot karena Starly tampak sangat kuat dan perkasa meskipun ia belum lulus S1. Nope pun memutuskan buat membantu karena diancem ban sepedanya bakal dikempesin. Dalam satu tarikan nafas, ia menyedot aer akuarium dan aer tersebut langsung mengucur keluar dari selang dan aer akuarium pun terkuras. GW dan Setyo pun berpelukan bahagia, ibarat Lionel Messi dan David Villa yang baru saja menjadi juara liga Champion. Terima kasih kepada Starly Nope, berkat dirinya, ritual kuras-menguras akuarium pun berhasil dilakukan tanpa memakan korban jiwa.

(Setelah diselidiki lebih lanjut, ternyata Starly Nope bukanlah manusia biasa. Dia adalah dewa sedot yang dihukum turun ke Bumi karena terlambat mengumpulkan PR ketika kuliah di kayangan. Adapun sebagai hukumannya, selama turun di Bumi, ia harus membantu lab aerodinamika untuk masalah sedot menyedot.)

Pos ini dipublikasikan di Curhat dan tag . Tandai permalink.

5 Balasan ke PIV 101 – Menguras Air

  1. Hicha berkata:

    hahaha..
    kali ini cerita lo cukup menghibur pen.. :p
    btw, kapan eksperimen PIV-nya? gw pengen liat deh..
    sekalian tutorial image processing ya.. hehehe..😀

  2. Anugrah Andisetiawan berkata:

    emang di sono kagak ada pompa aer? hahahha.. beli yang kecil (watt-nya.. ukuran selangnya juga) aje kalo emang sering dipake.. akuarium segede gaban.. haha

  3. sonny berkata:

    penelitian yang menarik, setelah ini ingin meneliti apalagi bro? hehe

    salam🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s