PIV 103 – Hukum Kekekalan Massa

Dalam mekanika fluida, ada 4 hukum utama yang harus ditaati. Ketiga hukum tersebut adalah hukum kekekalan massa, hukum kekekalan momentum, hukum kekekalan energi, dan hukum kebenaran dosen (Semua yang dikatakan dosen selalu benar dan melampaui kebenaran hukum2 lainnya:D). Lantas apa hubungannya dengan PIV? Tentu saja ada karena PIV adalah metode pengukuran aliran fluida, jadi tentunya harus menaati keempat hukum tersebut. Lantas apa hubungannya dengan postingan kali ini? Hubungannya adalah dalam postingan kali ini, gw akan menceritakan pengalaman gw dalam menerapkan salah satu hukum tersebut dalam melakukan eksperimen. Asoy… Berikut ceritanya:

Kejadian ini terjadi minggu lalu. Seperti yang kalian tau lewat PIV 101 dan PIV 102, kami menggunakan media aer di dalam akuarium untuk melakukan PIV. Untuk itu, setiap minggunya, kami selalu mengisi dan menguras akuarium untuk mencegah jatuhnya korban DBD di lab. (Dung Viet Dung, seorang mahasiswa Vietnam di lab kami, adalah contoh korban DBD akibat kemalasan kami menguras aer akuarium). Untuk mengisi akuarium, adapun 2 sumber aer yang bis digunakan. Pertama adalah dengan menggunakan aer dari WC di seberang lab, kedua dengan menggunakan keran wastafel di lab sebelah. Lantas apa hubungannya sumber aer akuarium ama Hukumekekalan massa? Sabar, Ini ud deket kok.

Nah, di suatu siang di minggu yang lalu, salah satu penghuni lab gw yang ga bisa gw sebutkan namanya (yang pasti bukan gw, bukan Setyo, bukan Nope, dan bukan Dung:D, biuar gamapng, sebut saja dia Pram (bukan nama sebenarnya)), melakukan ritual gosok gigi sebelum eksperimen demi mendapatkan hasil eksperimen yang bagus. Tiba-tiba, entah apa yang terjadi, wastafel pun terjatuh dan kerannya lepas. Alhasil, aer pun menyembur keluar bak aer bah yang turun untuk membersihkan dunia dari manusia2 penuh dosa. Secara di dalam lab gw terdapat banyak sekali alat-alat eksperimen yang walaupun sudah kadaluarsa tetap tak tergantikan, aer bah ini berpotensi merusak alat tersebut. Dengan panik, Pram pun berteriak minta tolong bak gadis mungil yang sedang diperkosa. Di saat itulah, gw dan Setyo datang untuk menyelamatkan sang gadis.

Gw pun datang dan melihat tubuh Pram yang basah dan seksi. Setelah puas memandangi tubuh basah Pram, gw pun mulai memeras otak gw untuk menanggulangi bencana ini. Adapun solusi yang gw terapkan adalah dengan menerapkan hukum kekekalan massa. Aer yang masuk harus sama dengan aer yang keluar. Gw pun dengan cepat mengambil ember dan menyuruh Pram (yang sedang basah-basah seksi) untuk menampung aer yang tersembur, lalu gw bergegas mencari ember lain. Setelah gw mendapatkan ember yang lain, gw kembali ke lab, dan menyuruh Pram menampung aer dengan ember yang baru yang masih kosong, sementara gw membawa ember yang ud penuh keluar lab buat dibuang, lalu kembali ke dalam untuk menukarkan ember yang dipakai untuk menampung aer sebelum penuh. Demikian seterusnya proses tukar-menukar ember dilakukan untuk mengantisipasi aer bah di lab aerogasdinamika ITB. AEr yang nyembur = aer yang keluar. Genius, pikir gw.

Setelah kurang lebih 1jam gw bolak-balik, gw pun mulai merasa lelah melakukam strategi tukar menukar ember ini. Gw pun sadar ada yang salah dengan solusi gw, namun gw ga tau apa yang salah. Alhasil, gw pun terpaksa melakukan strategi tukar-menukar ember ini selama 3jam ke depan. Setelah lewat 3jam (dan setelah tangan gw menjadi berotot kaya Ade Rai gara2 bolak-balik ngangkat ember penuh), Setyo pun tiba2 datang dengan solusinya yang fantastis. Doi mengambil selang pendek, menutup lubang keran aer dengan selang tersebut sementara ujung selang yang laennya dimasukkan ke saluran pembuangan aer wastafel. Betul juga ya, pikir gw.

Gw secara pribadi merasa bahwa solusi yang ditawarkan Setyo cukup baik, namun masih kurang tepat. Tak mau kalah dari doi, gw pun langsung menerapkan solusi lain yang jauh lebih bombastis: menyelotip selang ke lubang keran en lubang pembuangan. Fantastis, pikir gw. Dengan demikian, masalah pun teratasi dan aer bah pun berhasil dicegah. Selanjutnya, kami minta tolong ke pak Dali dan Mas Adi buat mematikan aliran aer dari pusat agar aer tidak mengucur terus dan kami pun berhasil menyelesaikan satu masalah dengan fantastis. Terima kasih kepada Hukum Kekekalan Massa yang telah diajarkan kepada kami selama 4tahun ini. Kami pun jadi mampu mengatasi masalah wastafel yang roboh.

Pos ini dipublikasikan di Curhat dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s