Cerita Pindahan Part 3

Waktu di kostan pertama gw, gw sering banget masak sama anak-anak kost yang isinya anak Sanur plus anak CC. Memasuki tingkat akhir, gw jadi jarang masak karena sibuk kuliah (Halah) dan tetek bengek lainnya. Pas di kostan kedua gw, ga ada dapur dan gw pun otomatis ga bisa masak. Gw pun menjadi rindu akan memasak. Gw membayangkan canda dan tawa anak2 MY4 (kostan pertama gw) pas lagi masak en barter bahan makanan. Dulu gw begitu kreatif dengan masakan-masakan gw.

Gw masih inget, salah satu masakan fantastis ciptaan gw adalah katsu dua dunia. Katsu ini sebenernya mirip dengan katsu (daging ayam tanpa tulang) biasa, tapi gw memasak katsu tersebut dengan metode fantastis gw yang ga bisa dijelaskan di sini karena belon dipatenkan. Alhasil, katsu gw jadi memiliki cita rasa unik tersendiri: gosong di bagian luarnya, namun beku/dingin di bagian dalamnya. Asoy! Salah satu ciptaan unik gw adalah telur rebus laba-laba. Telor ayam direbus lalu ditinggal mandi, nonton film, baca komik, dan maen bulu tangkis di halaman sampe aer di panci abis, dan telor tersebut meledak dan menciptakan semacam jaring laba-laba di bagian dalam panci. Fantastis!

Sekarang, di kostan ketiga gw, tersedia dapur dan kompor untuk memasak (Ya iylah, masa kompor buat ngerokok). Gw pun memutuskan untuk kembali aktif di dunia masak-memasak. Sayangnya, selama dua bulan gw hidup di kost baru ini, hasrat gw agak sedikit terhambat karena suatu kendala di kostan baru gw: Bibi kostnya males… Yup, super males. Lantas apa hubungannya bibi kost yang males sama gw ga bisa masak? Mari gw jelaskan.

Sama seperti di kost berdapur pada umumnya, adapun salah satu jobdesk bibi kost seperti yang diatur undang2 adalah mencuci perkakas dapur (selain juga mencuci cangcut2 gw). Nah, setiap pagi, bibi kost gw ini rajin mencuci perkakas dapur yang kemarin malem ud kita kotor2in buat masak, which is gidd. Cuman, masalahnya adalah, si bibi ini takut klo baru dicuci, perkakasnya langsung dipake lagi sehingga kotor dan perlu dicuci lagi. Alhasil, doi pun jadi seneng ngumpetin perkakas dapur di kamarnya. Menurut narasumber gw, Starly Nope Pantat Besar, kejadian ini sudah berlangsung sejak doi ngekost di sini. Alhasil, lama kelamaan, semakin banyak perkakas yang diumpetin. Awalnya panci ama wajan, sekarang gelas, garpu dan sendok pun diumpetin. Geblek!

Karena kurangnya perkakas masak ini (dan kalau pun lagi ga diumpetin, pasti perkakasnya kotor dan gw terlalu males buat nyuci sendiri), gw pun terpaksa mengurungkan passion gw untuk memasak dan membuat makanan kreatif (yang mana bakal gw sumbang ke Nope klo makanan eksperimental gw tersebut ga enak, secara doi pemakan segala:D). Gw sih ga masalah secara juga masakan gw lebih banyak yang gagal daripada yang sukses. Namun, yang bikin serem adalah, karena kebiasaan bibi kost ngumpetin perkakas, parpa penghuni kost sebelum gw ini pun bermutasi dengan keanehannya masing-masing. Berikut adalah daftar-daftar mutasi dari anak2 kost gw yang sempat gw lihat:

1. Suka ngumpetin perkakas juga. Yup, ternyata kebiasaan ini menular. Karena takut ga ada sendok atau garpu di dapur pas maw makan, beberapa anak kost mengambil sendok dan dapur di kamarnya masing2. Alhasil, garpu dan sendok pun menjadi barang yang sangat langka. Selama 1 bulan terakhir ini, belum pernah sekalipun gw ngeliat ada garpu atau sendok di dapur.

2. Suka makan nyeker. Yup, karena langkanya sendok dan garpu, otomatis nyeker alias makan dengan tangan kosong menjadi opsi utama. Adapun bagi gw, dampaknya adalah gw jadi cuman maw masak makanan yang bisa dimakan nyeker kaya nasi ayam goreng biasa. Namun, beberapa anak yang beraliran ekstrimis masih tetap memaksakan untuk makan nyeker makanan yang seharusnya tidak diceker kaya sup, mie kuah, mie goreng, dll. Setiap kali gw melihat ada anak kost yang makan sup nyeker, gw suka iba sendiri rasanya.

3. Minum dari mangkok atau piring. Ya, karena mangkok dan piring jauh lebih sering tersedia daripada gelas, banyak anak2 kost yang meminum aer dari dispenser (yang disediain kost) dengan mengggunakan mangkok atau piring. Gw pun jadi berasa berada di dinasti Ming atau semacamnya, yang mana aer atau arak diminum pake cangkir kecil yang mirip mangkok.

4. Tidak pernah mematikan TV di ruang tamu atas (apa hubungannya coba?).

Walaupun demikian, gw bersyukur karena at least di kost baru ini, semuanya bersih dan sehat. Ibarat tak ada gading yang tak retak, tak ada kost yang sempurna. Walaupun demikian, gw akan tetap menceritakan semua keanehan2 di kost baru gw ini lewat seri Catatan Pindahan. Mari kita berharap semoga bibi kost dan anak2 kost gw ga ada yang baca postingan ini. Hehehehe…

Pos ini dipublikasikan di Curhat. Tandai permalink.

4 Balasan ke Cerita Pindahan Part 3

  1. Bayu berkata:

    Pembantunya masih yg dlu itu pen? Cckkck
    Yg freak bawah kamar gw itu masih disitu jg?

  2. selfbeside berkata:

    grebek aja si Bibi Pengutil Paranti Masak

  3. Inatrin berkata:

    hahahahaha… g jadi pengen liat live kegokilan kos lu pen.. ga kebayang makan sop ga pake sendok.. -__-‘

  4. didi berkata:

    hahhahahha…hiiiiihihii…hohohohohohooo…..ya udh sidak kamar si bibi kost pasti dia jadi lunak sm lo2 pada :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s