Belajar Vespa? – Part 2 – Ngegenjot

Minggu lalu, setelah depresi gara-gara batal ke Jogja, gw pun memutuskan untuk pulang ke rumah gw di Serpong. Adapun alasan kepulangan gw adalah untuk rehat dari hiruk pikuk dunia dan disuruh nyokap gw ke dokter gigi buat meriksain gigi gw yang uda amburadul kaya semur. Sebenernya gw males ke dokter gigi karena gw merasa gigi gw saat ini adalah pesona gw. Namun karena ga mau durhaka, gw pun pulang.

Sepulangnya di rumah, bokap langsung pamer dengan idung kembang kempis klo doi baru saja menambah koleksinya. Bukan Vespa, melainkan sepeda kumbang, kata bokap. Awalnya, gw berpikir klo sepeda kumbang yang bokap maksud adalah sepede yang ban depannya super gede en ban belakangnya super kecil kaya gambar di atas, yang spesial dibeliin oleh bokap buat gw, anak kesayangannya yang gemar bersepeda dan jatuh guling2 (baca: Kecelakaan Naas dengan Belalang Tempur dan Lagi-lagi, Kecelakaan Naas dengan Belalang Tempur). Namun, setelah dikeluarin dari garasi, ternyata bentuknya adalah sebagai berikut:

Ternyata, ‘sepede kumbang’ yang dimaksud bokap adalah Motor merek Peugeot Bhama 50. Motor gaul ini bokap bilang sepeda kumbang karena ada pedal buat ngegowesnya (facepalm). Alhasil, ada dua alternatif untuk mengendarai speda kumbang ini. Yang pertama adalah cara pemalas (atau cara orang tajir, kata bokap), yaitu mengendarai dengan mesin 50cc-nya. Yang kedua adalah cara manusia tangguh (atau cara orang susah, kata bokap), yaitu dengan ngegenjot pedalnya dengan kaki.

Secara, motor ini sangat mirip dengan sepeda, gw pun langsung nafsu buat melakukan test drive. Belajar vespa, nanti dulu, ‘sepeda kumbang’ dulu aj. Alhasil, gw pun merengek pada bokap agar diperbolehkan testdrive. Setelah iba campur jijik melihat rengekan gw yang gw lakukan sambil guling-guling di garasi, bokap pun mengijinkan gw buat test drive, dengan catatan, hanya muter di puteran depan rumah. Asoy!

Gw pun memulai test drive pertama gw dengan mode orang tajir, yaitu pake mesin. Sebelum test drive, bokap pun berinisiatif ngengkolin ‘speda kumbang’ tersebut biar nyala mesinnya. MUngkin karena bokap tau klo gw sangat kesulitan dalam mencari dimana letak engkolan dan ga punya tenaga yang cukup buat ngengkol. Setelah nyala, gw pun langsung naek dan melesat keluat buat test drive. Asoy!

Test drive yang pertama ini cukup memuaskan. Dengan santai gw mengendarai si ‘sepeda kumbang’ menuruni tanjakan depan rumah gw lalu puter balik ke arah rumah. Secara cuman 50cc, ‘sepeda kumbang’ ini pun ga otomatik, tapi juga ga punya gigi. Alhasil, ‘sepeda kumbang’ ini menjadi sangat cocok untuk dikendarai orang-orang berrefleks lambat kaya gw. Tinggal engkol, gas, rem, gas, rem, semua beres.

Sesampainya di rumah, bokap langsung menghampiri gw layaknya seorang pitcrew dalam balapan F1. Doi langsung matiin mesin ‘sepeda kumbang’ dan mengeset baut di bagian sisi si ‘sepeda kumbang’ supaya pedal gowesnya terhubung ke rantai ban. Kurang dari sepuluh detik, pitstop pun selesai dan gw langsung meluncur menuruni tanjakan depan rumah, kali ini dengan mode manusia tangguh. Sayangnya, gw tidak memperhatikan tawa kecil bokap gw pas selesai melakukan pitstop.

Selama turunan, semuanya berjalan lancar seperti di surga. Namun, ketika puter balik ke rumah, yang mana jalannya jadi nanjak, semua berubah menjadi neraka. Karena nanjak, tentu saja gw sudah memprediksikan bahwa ngegenjot sepedanya bakal agak berat. Namun, secara ‘sepeda kumbang’ ini adalah motor yang dikasih pedal (beda sama beatrix yang notabenenya sepeda dikasih motor), genjotan yang diperlukan buat menjalankan si ‘sepeda kumbang’ menjadi sangat besar. Belum lagi, karena joknya adalah jok sepeda motor, bukan tipikal jok sepeda yang mengecil di bagian depannya, ngegenjot pun menjadi sulit karena lintasan genjotan kaki gw terhalang jok tersebut.

Awalnya, gw berniat buat menyerah dan naek ke atas dengan ngedorong si ‘sepeda kumbang’. Sialnya, bokap gw ternyata meratiin gw yang lagi ngegenjot kepayahan ke atas. Secara gw tadi ud ngomong gede ke bokap masalah manusia tangguh tukang genjot sepeda, maka turun dari si ‘sepeda kumbang’ dan ngedorong berarti gw menjilat lidah gw sendiri dan seorang laki-laki pantang menjilat lidahnya sendiri (klo lidah cewe lain bolehlah). Alhasil, gw pun tetap berusaha ngegenjot demi gengsi dan harga diri. 15 menit kemudian, gw pun sampai di rumah, dengan basah kuyup karena keringat, sementara bokap cuma nyengir2 melihat penderitaan gw.

Setelah mengalami pengalaman pahit ini, akhirnya gw pun memutuskan untuk trauma dan tidak akan memakai mode ‘manusia tangguh; lagi untuk si ‘sepeda kumbang’.

Stepen – trauma naek ‘sepeda kumbang’

Pos ini dipublikasikan di Curhat, Wejangan. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Belajar Vespa? – Part 2 – Ngegenjot

  1. linkse berkata:

    Jadi ini kerjaan lu abis ‘meninggalkan’ kereta ke jogja? Pretlah!
    Itu yang bikin iseng pisan ,ngapain juga motor dikasih pedal, udah ga cocok bentuk nya buat dikayuh dan tampak berat..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s