Stepen Talks Politics: Antara Republik Indonesia dan Mudika Vila Melati Mas

Gw selama ini jarang banget bicara tentang politik. Kenapa? Karena terus terang settingan DNS dan IP address otak gw ga cocok buat ngomongin masala politik. That stuff is too heavy for my small-sized brain. Akan tetapi, beberapa waktu yg lalu, gw iseng-iseng bikin status facebook yang isinya agak sedikit berkaitan dengan isu terhot hari ini seputar pemilihan presiden Indonesia di tahun 2014 ini dan ternyata efeknya luar biasa. Status gw yang biasanya ga dikomen siapa-siapa dan hanya di-like gw sendiri tiba-tiba mendapatkan banyak komen dan like, walaupun gw ga tau apakah like itu artinya setuju dengan pendapat gw atau menertawakan kebodohan gw. Eniwei, so, melihat hal ini, gw pun memutuskan untuk berbicara masalah politik juga di blog ini dengan harapan blog gw ini bisa tambah beken.

As you all know, berita yang paling hot tentang saat ini adalah tentang salah satu calon presiden yang dinyatakan kalah dan menolak hasil tersebut karena berbagai alasan. Again, secara gw ini rabun ayam masalah politik, gw ga mau komen apa2 ataupun memihak siapapun. Kenapa? Karena tujuan dari blog ini adalah mengundang orang lain untuk menertawakan gw, bukan untuk memancing konflik. Lantas apa yang mau gw omongin di postingan kali ini? Well, ternyata, dahulu, ketika gw masih muda dan belia, gw juga pernah terjun ke dunia politik, berorganisasi, dan mencalonkan diri sebagai presiden dari organisasi tersebut. Memang sulit untuk dipercaya mengingat gw ini klo mandi lama dan klo buang sampah tidak pada tempatnya. So, dengan adanya isu tentang capres kalah yang menolak hasil pemilu ini, gw rasa cukup relevan klo gw menceritakan pengalaman gw mencalonkan diri sebagai presiden pada waktu ini. Yah, kali-kali ada hikmah yang bisa diambil atau kebodohan yang ditertawakan. Okay, here goes the story!

Kisah ini terjadi di masa SMA, tepatnya dari pas kelas satu mau naek ke kelas 2. Waktu itu, gw aktif di suatu organisasi yang disebut MVM alias Mudika Vila Melati. Organisasi ini adalah organisasi di bawah naungan gereja gw yang dibuat khusus untuk menampung anak-anak muda gereja yang lebih suka hedon dan makan bakmi Parmo daripada pergi misa ke gereja. Saat gw masuk ke MVM, organisasi ini dipimpin oleh seorang pria senior veteran mudika bernama Radit (Ini adalah nama orang yg sebenarnya, walaupun belum dapet ijin dari yang bersangkutan buat make namanya). Radit ini berperawakan besar, klimis tanpa kumis atau jenggot, bijak, dan suka tidur ga pake celana. Dari segi kepemimpinan, Radit ini adalah tipe pemimpin yang melayani. Kenapa? Karena sebelum acara kumpul mingguan mudika, Radit selalu rajin ngejemputin semua anggota mudika tanpa paksaan apapun. Fantastis!

Radit memimpin MVM dengan adil dan bijaksana layaknya seorang raja sejati. Sayangnya, doi saat itu masih ting-ting dan mendambakan seorang pendamping. Alhasil, setelah memimpin MVM selama 2 periode berturut-turut (kayaknya sih 2 periode), doi memutuskan untuk lengser dan fokus mencari calon istri. Waktu itu, gw masih muda dan darah gw masih bergejolak. Begitu gw tau Radit lengser, gw pun langsung ambeien ambisius untuk mencalonkan diri dan bertahta di MVM. Kenapa? Karena dengan gw sebagai ketua MVM, gw yakin bisa memajukan MVM lebih jauh lagi selain pasaran gw di mata cewe-cewe gereja juga bakal meningkat drastis dan diskon yang gw dapet klo belanja dunkin donat.

So, waktu itu, diadakan sayembara untuk memilih ketua MVM yang baru. Radit membawa seluruh rakyat MVM ke daerah terpencil untuk latihan dasar kepemimpinan selama beberapa hari dan di hari terakhir akan diadakanlah sebuah sayembara untuk memilih ketua berikutnya. Sayembara ini pun bukan biasa pada umumnya. Di sayembara ini, setiap orang MVM yang mencalonkan diri sebagai ketua harus mamaparkan pandangan ke depan mereka terhadap MVM dan mereka harus saling bersaing dengan para calon lainnya untuk mendapatkan suara dari warga MVM yang tidak mencalonkan dirinya. Betul-betul sebuah sayembara yang tidak mudah.

Adapun waktu itu calon yang maju selain gw (tentu saja!) adalah seorang wanita belia bernama Meda (Ini juga nama sebenarnya walopun gw juga blm dapet ijin). Meda ini adalah teman seangkatan gw. Dari segi paras, doi mirip sama Song Hye Kyo walaupun pipinya 10x lebih tembem dan betisnya 10x lebih tebel. Walaupun begitu, doi ini adalah wanita lemah lembut yang klo ngegebuk punggung gw, sakitnya masih berasa sampe sekarang. Secara experience, doi ud join MVM dari sejak MVM baru dibentuk. So, klo dibandingkan dengan gw yang baru join MVM selama kurang lebih 1 taon, doi ud veteran. Jadi, sebenernya bersaing dengan doi bukanlah hal yang mudah. Sangat berat. Tapi bukan Stepen namanya klo takut kalah sebelum berperang.

So, sebelum sayembara dilalukan, gw pun datang dengan ide fantastis yaitu bagi-bagi pisang goreng ke seluruh rakyat MVM. Sayangnya ide itu tidak dilakukan karena gw lupa bawa dan ngegoreng pisangnya.

Akhirnya, setelah 3hari (gw lupa berapa hari) latihan kepemimpinan yang isinya outbound kaya Takeshi Castle, sayembara pun dilakukan. Gw pun memulai orasi gw dengan menyatakan bahwa gw akan memajukan MVM dari semua bidang: politik, ekonomi, dan sepak bola. Gw juga berjanji akan menjemput seluruh warga MVM setiap kumpul mingguan dan akan memperbaiki tabiat suka pake cangcut warna pink. Orasi gw pun berlangsung heroik, layaknya Sukarno yang sedang melakukan proklamasi sambil nahan kentut. Di akhir orasi, gw pun bertepuk tangan sangat keras. Fantastis, gw pasti menang!

Sayangnya, gw melupakan satu faktor: Meda adalah perempuan dan seluruh warga MVM adalah laki-laki kesepian yang mendamba sentuhan wanita (termasuk gw). Saat orasi, Meda hanya berorasi demikian:

“Saya akan berusaha sebaik-baiknya demi MVM! Aca-aca Fighting!!!” (ditutup dengan aksi kedip mata)

dan seketika seluruh laki-laki MVM lumer. Dalam sekejap, seluruh laki-laki MVM (termasuk gw) pun memberikan suaranya ke Meda dan gw pun kalah telak dengan perolehan suara 30an banding 1. Adapun satu suara yang gw peroleh adalah dari Radit yang merasa iba karena gw tidak mendapatkan satu suarapun. Gw pun kecewa, hancur, dan bersin-bersin. Gw sempat berpikir untuk melakukan WO dan meninggalkan tempat pelatihan. Untunglah seorang sahabat mengingatkan gw untuk tidak melakukan itu karena uda ga ada angkot lagi.

Pada awalnya, terus terang gw terpukul dan sakit hati. Gw bener2 tidak siap untuk kalah. Gw pun ngambek dan mengutuk Meda dalam hati supaya doi diculik dan tidak ditebus oleh orang tuanya, sehingga gw pun secara otomatis menggantikan posisi doi sebagai pria nomer satu si MVM. Sayangnya, ga ada yang mau nyulik Meda. Mau ga mau, gw pun kembali dari tempat pelatihan dengan posisi yang sama: rakyat biasa.

Gw pun lembali menjalani masa-masa di MVM seperti biasa, namun kali ini di bawah pemerintahan Meda. Walaupun awalnya pahit dan gw merasa diri gw hina, tapi lama-lama gw pun legawa dan menerima Meda sebagai ketua MVM dan mengakui bahwa doi lebih superior dari gw dalam hal kepemimpinan dan senam lantai. Belum lagi setiap minggunya doi selalu bagi-bagi permen ke semua anggota. Gw juga diberikan jabatan khusus dalam pemerintahan doi, yakni sebagai Menteri Pemberdayagunaan Internet. Tanpa sadar, gw pun ikhlas dan berusaha memberikan yang terbaik kepada MVM di bawah kepemimpinan gw. Sayangnya, masa bakti gw di MVM tidak bertahan lama. Lulus SMA, gw dan hampir seluruh anggota harus pindah dan berpencar2 ke berbagai daerah untuk menimba ilmu. Hingga kini, MVM masih dalam status koma dan belum aktif lagi.

Well, demikianlah cerita gw sewaktu berpolitik di masa SMA. Perlu gw tekankan bahwa cerita ini adalah 100% fakta dan tanpa dilebih-lebihkan. Semua yang gw tulis di sini adalah apa adanya tanpa dilebih-lebihkan sedikitpun. Gw juga perlu menekankan bahwa lewat cerita ini, gw tidak bermaksud untuk membela atau menghina salah satu ataupun kedua calon presiden kita. Gw hanya ingin mendapatkan visitor sebanyak-banyaknya, biar blog ini makin eksis. Sekali lagi, sekian dan terima kasih telah menyianyiakan waktu anda membaca postingan ini.

Stepen – Eks Menteri Pemberdayagunaan Internet Republik MVM

Pos ini dipublikasikan di Curhat, Teman-Teman Gw dan tag . Tandai permalink.

2 Balasan ke Stepen Talks Politics: Antara Republik Indonesia dan Mudika Vila Melati Mas

  1. Hicha Aquino berkata:

    Blog lu gw jualin ke penerbit aja apa yak? Lumayan kayaknya buat duit tambahan..😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s