Zombie Apocalypse: Nakadai Story Episode 01

Libur akhir tahun seharusnya menjadi masa-masa yang bahagia, terutama bagi mereka yang tinggal di negara asing untuk mencari sesuap nasi. Hanya di saat inilah, mereka bisa pulang ke negara asal untuk berkumpul bersama keluarga, kekasih, dan teman-teman. Sayangnya, hal itu tidak berlaku bagi Stepen di tahun 2014 ini. Dia baru saja mengakhiri 4 tahun hubungan asmaranya dengan sang kekasih dan entah rasa antusias untuk pulang ke Indonesia tidak muncul seperti tahun-tahun sebelumnya. Mahalnya harga tiket pesawat dan obligasi untuk menjelaskan kepada keluarga dan teman-teman dekat tentang berakhirnya hubungan dia dengan sang kekasih membuat ia semakin enggan untuk pulang. Dan akhirnya setelah mendapat restu dari sang ibu yang cukup posesif, ia pun memutuskan untuk tetap di Jepang selama libur akhir tahun ini.

Ia pun beranjak keluar dari balutan selimut yang hangat mengambil dompetnya, mengeluarkan kartu kecil yang adalah kalender perusahaan. Libur dimulai dari tanggal 23 Desember sampai dengan 4 Januari tahun depan, total 13 hari. Ia pun mulai memikirkan apa yang sebaiknya ia lakukan selama 13 hari tersebut, mulai dari memaksakan diri belajar game programming secara otodidak yang ia ingin lakukan sejak dahulu namun tidak dilakukan karena alasan lembur, sampai pergi bermain snowboarding. Namun akhirnya ia memutuskan untuk memanjakan dirinya dengan tinggal di kamar dan main Path of Exile hingga matanya lelah sambil mengemil cookies coklat puchi kesukaannya. Dan dengan rasa malas, ia pun keluar dari kamarnya dan bersepeda ke Seiyu untuk membeli cookies coklat puchi untuk stok selama 13 hari ke depan.

***

Waktu menunjukkan pukul 1 siang dan Stepen akhirnya membuka matanya. Rasa lelah di matanya akibat menatap layar komputer hingga pukul 4 pagi masih terasa. Masih tetap di dalam balutan selimut hangatnya, ia pun meraih handphonenya. Home screen menunjukkan tanggal 2 Januari. Libur hampir berakhir. Sudah lebih dari 10 hari ia mengurung dirinya di dalam kamar sampai ia sudah tidak tahu tanggal lagi. Ia pun mengalihkan pandangannya ke kumpulan bungkus kosong cookies coklat puchi yang berserakan di meja dan tumpukan tissue yang memenuhi lantainya. Ia pun mulai berpikir, mungkin hari ini adalah saat yang tepat untuk membereskan kamarnya. Sayangnya udara dingin memaksa ia untuk menutup matanya dan kembali bermanja dalam pelukan selimutnya yang hangat. Barulah satu jam kemudian, dengan melawan rasa malas, ia pun akhirnya bangkit dari tempat tidurnya, membereskan sampah-sampah yang ia biarkan berserakan dan untuk pertama kalinya dalam 10 hari terakhir ini ia membuka kunci kamarnya dan berjalan menuju ruang sampah.

Dengan mata setengah terpejam, ia berjalan menelusuri lorong asrama yang hening, melewati kamar-kamar yang saat ini kosong karena orang-orang sedang pulang ke kampung halamannya. Mungkin saat ini, hanya ia sendiri yang ada di asrama. Penghuni asrama yang orang Jepang pasti sedang bermalas-malasan di rumah orang tuanya sementara yang orang asing pasti sedang di negara asalnya.  Di saat seperti ini, yang tersisa di asrama hanyalah mereka yang punya alasan kuat untuk tidak pulang atau mereka yang tidak punya alasan untuk pulang. Ya, bahkan sang dorm master pun tidak ada di asrama, pulang dan menikmati tahun baru bersama keluarganya.

Stepen pun memasuki ruang sampah dan membuang bungkusan cookies coklat Puchi kesukaannya ke tempat sampah untuk sampah yang terbakar. Salah memang, tapi ia terlalu mengantuk untuk bisa membaca tulisan kanji di tempat sampah tersebut. Lagipula, siapa yang peduli? Beberapa kali ia salah memilah sampah dan tidak ada masalah apa-apa pada akhirnya. Selama namanya tidak ada tercantum di sampahnya, tidak akan ketahuan.

Ia pun turun ke lobby untuk membeli sekaleng pepsi dari vending machine. Tidur terlalu lama membuat tenggorokannya kering. Air putih terlalu hambar untuk hidupnya yang kini hambar, sementara teh terlalu pahit untuk hatinya yang saat ini dilanda duka. Jadi, pepsilah pilihan yang terbaik, pikirnya. Terlalu malas untuk menuruni tangga, ia pun menekan tombol elevator dan membiarkan matanya kembali terpejam sampai elevator membangunkannya dengan bunyi ‘ting’ yang lembut.

Sesampainya di lantai satu, ia langsung berjalan ke arah vending mesin, memasukkan sekeping koin 50 yen dan 7 keping koin 10 yen, dan menekan tombol pepsi yang ada di barisan paling atas. Sekaleng pepsi pun terjatuh dan dalam sekejap suara erangan pendek terdengar, seolah bereaksi terhadap suara kaleng jatuh tersebut. Kaget dengan suara erangan tersebut, rasa kantuk pun sirna dan Stepen menolehkan kepalanya ke sebelah kiri, ke arah pintu masuk asrama yang terbuat dari kaca. Seketika saat itu juga Stepen tahu bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi, ketika ia melihat apa yang ia lihat di balik pintu masuk asrama.

fin

Pos ini dipublikasikan di Zombie Apocalypse. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Zombie Apocalypse: Nakadai Story Episode 01

  1. linkse berkata:

    udah mupon 100% ini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s