Rackexcalibur!

Adalah hobi gw untuk berolahraga agar tubuh gw six pack, sehat, dan adil sentosa. Di kampung gw dulu, gw cukup lumayan rutin maen futsal, basket, walaupun dari segi skill, skill gw ga beda jauh dari orang2an sawah (baca: diajak ikut maen untuk meringankan beban patungan bayar lapangan). Sayangnya, di sini, di negeri bunga sakura ini, hobi gw jadi agak susah untuk diluapkan karena mahalnya ongkos lapangan dan sulitnya mencari pemain. Alhasil, di Jepang, gw pun beralih ke olahraga super gaul yang diberi nama bulu tangkis. Kenapa? Karena cuman berdua doank ud bisa maen.

Sebenernya, waktu di Indonesia, gw ada beberapa kali rutin maen bultang, tapi karena gw maennya bareng para bocah autis lainnya, kita maennya just for fun dengan tujuan utama mempererat tali silaturahmi dan ngegosip sambil nunggu giliran maen. Alhasil, permainan gw pun tidak berkembang dan skill gw tetap di level ikan teri. Saking terinya, tiap kali gw mukul koknya sekenceng2nya, ga pernah keluar suara CETAR yg fantastis kaya klo org2 biasa lg maen. Yah ada, tiap kali gw mukul, yg keluar malah bunyi tawa cekikikan.

Di Jepang, semuanya berubah. Awalnya emg gw maen badminton sama kaya waktu di Indonesia, demi ngegosip, sampe akhirnya gw bertemu sepasangan kakek nenek bernama Onosatou. Dari segi fisik, mereka terlihat seperti orang tua pada umumnya: tua. Tapi perlu kalian ketahui bahwa mereka bukan sepasang orang tua biasa. Mereka adalah mantan perwakilan atlet badminton Kanagawa-ken (salah satu propinsi di Jepang) ketika mereka masih muda dan belia. Tanpa mengetahui hal ini, gw dan seorang teman pun maen ganda dengan mereka dan kalah telak 21-0. Yeah, I am not shitting you, they didn’t make mistake, not even once. Saking jagonya, gw bahkan sempet berpikir buat pura2 ayan biar pertandingan gw d-cancel.

Tentu saja sebagai orang yang punya harga diri tinggi, gw pun tak terima dan termotivasi untuk berlatih badminton secara serius, demi bisa ngalahin The Onosatous (Bagi yang punya lagu Eye of The Tiger nya Rocky, boleh diplay sekarang). Gw pun memulai rezim latihan neraka gw setiap hari. Dimulai dari latihan beban, sampe dengan latihan aerobik dan senam kegel gw lakukan. Setiap minggu pun gw selalu sparring dengan The Onosatous untuk melihat perkembangan gw. Di luar dugaan, seiring dengan berjalannya waktu, permainan gw berkembang (baca: gw makin jago (sambil ngembang ngempesin lobang idung)) dan setelah satu tahun berselang, gw pun akhirnya bisa kalah dengan score yang lumayan ga malu2in: 21-15 (Disclaimer: score ini berhasil gw raih ketika sang nenek lagi cedera dan sang kakek raketnya lepas senarnya).

Di luar dugaan, bukan cuman gw yang menyadari fantastisnya perkembangan permainan gw. Sang guru sekaligus rival, The Onosatous pun mengakui perkembangan gw. Mereka melihat bagaimana gw yang tadinya dengan mudah bisa dikalahin sama anak SD, cewek pula, kini sekarang bisa bermain seimbang dengan cewek SMP walaupun ujung2nya tetep kalah. Dan di luar dugaan juga, ternyata The Onosatous ini sedang mencari pemuda yang tepat untuk mewarisi raket legendaris, rackexcalibur, raket yang membawa The Onosatous memenangkan turnamen Badminton se-Kanagawa-ken. Dan setelah melihat klo gw ud 3 minggu kehilangan raket dan minjem2 raket mulu ke temen2 gw perkembangan gw yang pesat dan permainan gw yang fantastis namun seksi dan mengundang tawa, mereka pun memutuskan untuk melepas raket legendaris ini ke generasi muda untuk nantinya melindungi Jepang dari serangan Godzilla.

So, hari minggu kemarin pun mereka dateng ke sport center seperti biasa, namun dengan membawa sarung badminton yang cukup kumal namun keliatan legendaris. Mereka pun menghampiri gw, mengeluarkan Rackexcalibur dari sarungnya dan menancapkannya ke tanah lalu berkata dalam bahasa Jepang kuno yang gw bakal terjemahin aj langsung ke bahasa Indonesia biar ga ngebingungin: “Let’s see if this racket think that you are worthy enough.”. Yup, Onosatou menantang gw untuk mencabut Rackexcalibur dari tanah. Gw pun bingung dan ga menyangka ini bakal terjadi.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sebelum gw lepas dari kebingungan gw dan kelemotan gw, Reza, temen maen badminton gw sekaligus pasangan pelukan gw di saat gw kedinginan, iseng mencoba menarik raket usang tersebut dari tanah dan, ya, seperti yang ada di pelem2, doi ga bisa menarik keluar raket tersebut. Doi ud menarik sekuat tenaga same mengerang-erang kaya lagi dipecut bokongnya, namun raket tersebut tidak bergeming sedikitpun. Gw pun seolah tak percaya, tapi suer, ini bener2 terjadi.

Melihat kericuhan tersebut, Reza, temen gw yang laennya (Gw punya 2 temen maen badminton yang namanya sama2 Reza, membingungkan memang, tapi bear with me for a little bit more), datang menghampiri. Reza pun menceritakan ke Reza tentang raket tersebut dan karena penasaran, Reza pun langsung ikut mencoba mencabut raket legendaris tersebut seperti yang Reza telah lakukan sebelumnya. Namun sama seperti Reza, Reza pun tidak dapat mencabut raket tersebut. Tidak seperti Reza yang mudah menyerah, Reza pun menggulung lengan bajunya, mencoba melemaskan otot-ototnya yang kaku karena musim dingin taon ini di Jepang dan mencoba lagi. Akan tetapi, hasilnya sama saja.

Reza tetap mencoba sekuat tenaga menarik raket tersebut keluar dari tanah, namun akhirnya dihentikan oleh The Onosatous. Dalam bahasa Jepang kuno dan dengan suaranya yang berat dan bijak, doi berkata: “Only the worthy one can pull this racket.” sambil mengarahkan bola matanya ke gw, seolah memberikan signal ke gw untuk mencoba menarik raket tersebut keluar dari tanah.

Gw pun mengulurkan tangan gw dan menggenggam gagang raket tersebut. Begitu menyentuh raket tersebut, seketika gw merasakan raket tersebut bergetar dan berbisik ke gw dalam bahasa kuno: “Pull!”. Gw pun mengencangkan genggaman tangan gw dan seketika langit menjadi gelap dan bergemuruh. Nyanyian-nyanyian surgawi seketika berkumandang. Begitu gw mulai mencoba menarik raket tersebut, secercah sinar dari langit datang menembus awan dan menyinari raket tersebut. Dan tak disangka-sangka, sedikit demi sedikit, raket tersebut terangkat dari tanah dan akhirnya tercabut. Seketika, langit kembali terang dan semuanya kembali seperti sedia kala. Gw pun memandang The Onosatous dan doi berkata ke gw dalam bahasa Jepang kuno: “Take it and swing it proudly, for you will need that to save our world”.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA

So, kini, gw bukan lagi Stepen yang dulu, yang bisa dengan mudahnya dikalahkan oleh cewe SD. Gw adalah pemain badminton fantastis yang dipercaya oleh sang legenda, The Onosatous, untuk memegang dan menggunakan raket legendaris, Rackexcalibur, dan gw akan memenuhi sumpah gw ke Onosatou-san untuk menggunakan raket ini hanya untuk membasmi kejahatan. Setelah serah terima raket pun, gw menantang The Onosatou-san untuk sparring ganda dan hasilnya pun betul-betul di luar dugaan. Gw kalah telak 21-5. Untunglah gw masih bisa menggunakan excuse ‘belum terbiasa dengan raket baru’.

Setelah itu, gw pun pulang dan dengan sekejap hari minggu gw berakhir dengan gw, memegang Rackexcalibur yang gw dapatkan dengan percuma (baca: gratis) dari pasangan Onosatou. Gw berjanji akan merawat raket ini sebaik-baiknya, termasuk meninabobokannya setiap hari dan mengganti popoknya, dan gw juga berjanji akan berlatih badminton dengan keras dan bersumpah bahwa gw akan bisa mengalahkan cewek SMP sebelum gw minggat dari Jepang.

“Terima kasih, Onosatou-san” (diucapkan dalam bahasa Jepang kuno oleh gw)

Stepen – Ngerti Bahasa Jepang Kuno Dikit-Dikit

Pos ini dipublikasikan di Cerita Serius dan tag , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Rackexcalibur!

  1. Ping balik: Rackexcalibur III : The Legend Ends | stepenautis

  2. Ping balik: Rackexcalibur II | stepenstependotcom

  3. Ping balik: Rackexcalibur III : The Legend Ends | stepenstependotcom

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s