The Oppai Club

Sebenernya, gw agak sangsi apakah gw kudu nyeritain pengalaman gw yang satu ini di sini karena somehow it is kinda inappropriate dan isi ceritanya agak sedikit melenceng dari visi misi blog ini: autis dan menghibur. Tapi karena banyaknya pertanyaan dan desakan dari berbagai pihak tentang hal ini, okelah, gw ceritain di sini. Tapi ingat, this post is intended for mature audience only. Jadi, bagi mereka yang masih berumur di bawah 20 tahun, mohon agar segera menutup laman ini dan membersihkan diri kalian sendiri di kamar mandi. Bagi yang ud di atas 20 taon, kunci kamar kalian sebelum membaca postingan ini. Okey? Good…

Oke, cerita ini bermula dari pesta taon baruan departemen gw. Gw ngobrol dengan salah satu atasan gw yang level kemesumannya kurang lebih sama dengan gw (Ternyata merrid tidak membuat level kemesuman seseorang berkurang). Pembicaraan awalnya ngomongin cewe-cewe muda di kantor yang hot dan seksi tapi ujung-ujungnya beralih ke benda yang paling indah yang Tuhan ciptakan: pabrik susu (Sengaja gw samarkan biar blog ini ratingnya tetep PG-13). Awalnya, yang diomongin adalah berupa-rupa bentuk pabrik susu, lalu preferensi bentuk dan ukuran pabrik susu yang disukai, dan akhirnya pembicaraan pun beralih ke tentang Oppai Club. Apa hubungannya pabrik susu dengan Oppai Club? Hint: Oppai adalah Bahasa Jepang dari pabrik susu. Yup, gw rasa mereka yang berotak mesum cerdas pasti ud bisa menebak. Oppai club ini adalah club dimana kita bisa melihat, menyentuh, dan memegang-megang pabrik susu secara langsung, live, dan tanpa dipungut biaya. Oke, gw bohong untuk yang terakhir. Tentu saja tarif, syarat, dan ketentuan berlaku. Nothing is free in this world, man.

Jadi konsep dari oppai klub ini kaya klub biasa gitu. Ada banyak meja kursi dan kita ditaroh di salah satu meja, duduk manis di situ, minum bir (atau kola) sambil menunggu. Nanti bakal ada cewe yang dateng ke meja kita dengan busana ‘ala kadarnya’ untuk ‘ngobrol’ dengan kita selama kurang lebih 10 menit, terus doi akan pergi dan cewe yang laennya bakal dateng buat menggantikan ‘ngobrol’ dengan kita. Secara konsep dari bar ini adalah 触り放題 (Sawarihoudai) alias bebas ‘menyentuh’ sepuasnya, selama ‘ngobrol’ kita bebas menyentuh-nyentuh doi, tentu saja dengan beberapa syarat yang tidak boleh dilanggar. Apa saja peraturan2 tersebut? Ah, kalian tidak perlu tahu.

Eniwei, so, beres pesta taon baruan, atasan gw pun langsung menghampiri gw dan menawarkan gw buat pergi bareng ke club tersebut. Awalnya gw mikir kaya gini: “Ah, ni orang ud merrid, mana mungkinlah pergi ke tempat kaya ginian, paling juga pergi ke tempat minum yang laen buat ronde 2.” So, secara gw lumayan cocok ama doi, gw pun memutuskan buat pergi bareng doi. Memisahkan diri dari rombongan, gw dan atasan gw dan satu senior muda gw yang entah kenapa ikut2an pun pergi ke salah satu bangunan di Kawasaki yang mana pintu masuknya cuman sebuah lift dan dijaga oleh seorang laki-laki bertubuh kekar. Atasan gw pun nunjukkin kartu nama dari salah satu cewe yang bekerja di Oppai Club tersebut dan seketika sang penjaga pun mempersilahkan kita bertiga masuk lift. Saat inilah baru gw sadar, damn, I am really going to this club.

Naek ke lantai tiga, kita pun jalan melewati lorong akhirnya sampai di resepsionis Oppai Club tersebut. Dari meja resepsionis, gw pun mengalihkan pandangan gw ke sekeliling club dan tidak bisa mempercayai mata gw. Yup, pabrik susu dimana-mana, seliweran lalu-lalang dengan bebas. Gw pun bertanya kepada diri gw sendiri: “Is this heaven?” dan mulai ngiler sampe akhirnya gw harus dihadapkan pada kenyataan pahit: “Nothing is free in this world.” Yup, ternyata untuk masuk dan melakukan sawarihoudai di klub ini, tariffnya adalah 7700yen per 90menit. Yeah, 800rebu rupiah lebih untuk 90 menit yang klo menurut gw ujung2nya bakalan meaningless juga. 800rebu rupiah itu bisa buat beli Gundam yang Master Grade (MG) dua biji. Dan gw pun mulai bimbang.

Yang tak disangka-sangka adalah ternyata atasan gw ini beneran kenal sama salah satu cewe yang kerja di sini. Yup, dan cewe tersebut pun dateng sampe ke meja resepsionis buat menyambut kedatangan atasan gw, tentu saja dalam ‘seragam kerjanya’ (baca: topless). Yang lebih tak disangka-sangka lagi, this girls goes as far as putting lipstick in her nip, stamping her nip in her ‘business card’ and gave it to us. Yup, berikut adalah kartu nama yang doi berikan ke gw yang hingga saat ini gw masih bingung apakah harus gw buang atau gw bakar, makanya masih tetep gw simpen (Excuse).

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Eniwei, demikianlah kira2 pengalaman gw untuk pertama kalinya pergi ke Oppai Club. Bagi yang penasaran apakah gw jadinya ikutan masuk atau enggak ke club tersebut, well, biarlah itu menjadi rahasia pribadi gw. Kenapa? Karena klo gw jawab gw masuk, gw bakal dikira mesum (which is kinda true already) dan klo gw jawab gw ciut dan ga jadi masuk, gw bakal dikira sok alim atau cemen. Jadi, demi menjaga image gw agar tetap gaul dan semerbak, gw akan merahasiakan hal ini dari khalayak publik. Yang bener2 penasaran dan pengen tau, bisa hubungi gw secara lewat e-mail atau watsap atau line. Dijamin pasti gw jawab.

Stepen – Ud Pernah Liat Pabrik Susu

Pos ini dipublikasikan di Cerita Petualangan Liar Saya. Tandai permalink.

Satu Balasan ke The Oppai Club

  1. san2 berkata:

    Stepen masuk kok..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s