Zombie Apocalypse: Nakadai Story Episode 2

Stepen merebahkan tubuhnya ke atas ranjang, mencoba untuk menenangkan dirinya sambil tetap menatap pintu kamarnya. Rasa ragu dan takut pun menguasai dirinya dan sekali lagi, ia bangkit dan berjalan ke pintu masuk kamarnya untuk memastikan bahwa kamarnya telah terkunci. Rasa lega pun datang begitu ia memutar kenob kamarnya dan mendapati pintu kamarnya telah ia kunci. Ia meghembuskan satu nafas panjang, seolah mendeklarasikan kelegaannya dan kembali berjalan ke arah ranjangnya.

Ia pun mencoba untuk menenangkan dirinya. Selama ini, ia memang selalu mempersiapkan dirinya untuk keadaan seperti ini. Setiap hari, ia selalu melakukan latihan fisik ringan untuk menjaga kekuatan fisiknya dan setiap hari senin malam, ia selalu menyempatkan dirinya menonton The Walking Dead sebagai bahan referensi. Di waktu luangnya, sesekali ia membaca pdf Zombie Survival Guide karangan Max Brooks. Selama ini, ia yakin bahwa ia siap dan akan survive bila hal itu benar-benar terjadi. Tak jarang pula ia menulis status di facebooknya, mencoba memamerkan ke dunia tentang kesiapannya. Sayangnya, kini ia ciut.

***

Stepen mengambil HPnya dan menon-aktifkan flight mode yang telah ia set sejak 10 hari yang lalu. Seketika, HPnya tak berhenti bergetar, seolah marah akan dirinya yang tidak mengindahkan HPnya selama 10 hari ini. Ia pun tidak memperdulikan message-message tersebut dan langsung membuka browsernya, mencoba untuk memahami apa yang terjadi dengan dunia ini selama ia mengurung dirinya di kamar. Namun ia tidak menemukan apapun. Semuanya tampak normal, seolah menyangkal apa yang ia lihat barusan di bawah.

Bingung, ia pun membuka LINE, berharap bisa menemukan sesuatu, apapun itu.

Message dan missed call dari sang ibu pun muncul di urutan teratas chatlistnya. Tanpa pikir panjang, ia pun membuka chat ia dengan sang ibu dan langsung menelpon yang ibu, berharap sang ibu mengangkat. Dering demi dering terlewati dan rasa kuatir pun bertambah, namun tidak ada yang mengangkat di ujung sana. Ia pun mencoba lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi, dan akhirnya menyerah. Stepen pun menarik nafas panjang dan membuka chat-chat lainnya. Tidak ada yang aneh dengan chat-chat tersebut. Di semua group chat, percakapan terjadi seperti biasa, penuh dengan tawa canda, saling ejekan, dan share-share link yang tidak pernah menarik perhatian Stepen sedikit pun untuk membuatnya membuka link tersebut. Ia pun membuka kembali ke chatnya dengan sang ibu dan mendapati tidak ada yang aneh. Hanya ucapan selamat pagi dan pertanyaan “Udah makan blm?” seperti biasa. Namun dari chat dengan sang ibu, akhirnya Stepen pun menyadari sesuatu.

Message terakhir dari sang ibu adalah 8 hari yang lalu. Begitu pula dengan chat-chat dan group chat lainnya. Ia pun membuka browsernya kembali dan memastikan ketakutannya. Tidak ada sesuatu yang baru sejak 8 hari yang lalu. Seluruh situs berita ia kunjungi dan semua artikel yang ada diposting 8 hari yang lalu, seolah waktu berhenti berjalan 8 hari yang lalu. Sesuatu terjadi 8 hari yang lalu, hanya itu kesimpulan yang saat ini bisa ia tarik.

Ia pun mencoba keberuntungannya, memilih seluruh isi contactnya, membuka chat baru, dan mengirimkan sebuah pesan yang berisikan lima kata:

“Is anyone still alive now?”

lalu melempar HPnya ke ranjang, karena ia sadar, mungkin tidak ada yang akan menjawab pesannya.

Ia pun bangkit dari ranjang, berjalan ke arah jendela, dan dengan sangat hati-hati menyingkap gorden yang menghalangi pandangannya keluar. Ia pun menemukan pemandangan yang sama dengan yang ia temukan di pintu masuk asrama, hanya saja, kali ini, ia tidak mengalihkan pandangannya dan langsung mengambil langkah seribu. Ia pun membatu tak bergeming selama beberapa saat, memperhatikan dengan seksama apa yang ia lihat di luar sana layaknya seorang anak kecil yang terus memperhatikan mainan yang diinginkannya agar dibelikan sang ibu. Entah apa yang ada di pikirannya, namun tak lama kemudian, ia pun tersenyum ringan.

Ia beralih dari jendela dan beranjak ke arah lemari barangnya. Dengan tangan kanannya ia meraih tas carriernya, tas terbesar yang ia miliki, dan menariknya keluar. Ia pun memeriksa setiap kantong, memastikan tasnya benar-benar kosong, lalu melihat lembali ke dalam lemari barangnya. Pandangannya pun tertuju pada sleeping bagnya. Ia tertegun sesaat sebelum akhirnya mengambil sleeping bag tersebut dan memasukkannya ke dalam tas carrier sambil berdesah kecil, “Just in case…” dan akhirnya menutup lemari barangnya. Ia berjalan ke tengah kamar, melihat ke sekeliling sambil memikirkan benda-benda yang sebaiknya ia bawa. Rechargeable battery, charger HP, headlamp, dan pocket utility tool yang baru saja ia beli beberapa bulan lalu untuk sekedar gaya, semua ia masukkan ke kantong depan tas carriernya. Ia pun berhenti sejenak, merasa lucu karena apa yang ia lakukan saat ini mirip saat ia hendak berlibur ke Kouzushima bersama Alvi dan Reza. Tas carrier, sleeping bag, dan peralatan-peralatan lainnya yang dibawa lebih untuk alasan gaya. Sayangnya, kali ini, ini bukan liburan. Dan kali ini, hanya Stepen seorang diri.

Dengan santai, ia mengganti bajunya dengan baju yang lebih hangat, celana parasut, dan jaket parasut tebal berwarna biru yang 2 tahun lalu ia kenakan saat ia menaklukan gunung Fuji. Ia memasukkan sarung tangan dan topi kupluk ke kantong jaketnya dan kemudian duduk di ranjang untuk memakai sepatunya. Baru selesai mengenakan sepatu kirinya, HPnya bergetar dan sekali lagi menyuntikkan rasa kaget ke dalam dirinya. Layar HPnya menyala dan menunjukkan kotak kecil dengan banner hijau di bagian atasnya. Ia pun mengalihkan pandangannya ke layar HPnya, yang terletak cukup jauh untuk Stepen dapat membaca message tersebut dengan jelas. Dengan menyipitkan matanya, samar-samar, pesan itu pun terbaca.

“Yes, please help.”

fin

Pos ini dipublikasikan di Zombie Apocalypse. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s