Rackexcalibur II

Beberapa waktu yang lalu, gw mendapatkan raket legendaris dari legenda hidup perbadmintonan Jepang (baca prequel dari postingan ini di Rackexcalibur!) dan sejak saat itu, kehidupan perbadmintonan gw pun berubah 180derajat. Gw bukan lagi Stepen yang bermain badminton just for fun, tapi kini gw bermain badminton dengan tujuan mulia: mencari calon ibu dari calon anak-anak gw membasmi kejahatan dan membela kebenaran.Ya, setiap malam Rabu, malam Jumat dan weekend, gw bersama sidekick gw: Reja Ojongono berpatroli di Tsurumi Sport Center untuk menolong yang tertindas jika dan hanya jika yang tertindas adalah wanita cantik, muda, dan muda belia. Everything seems to be working just fine, walaupun pencarian calon ibu dari calon anak-anak gw masih belum membuahkan hasil. Namun, di suatu sabtu yang cerah, semuanya berubah.

Waktu itu, sabtu tanggal tua bulan Mei, gw diundang untuk bermain badminton dengan anak-anak gereja Indonesia di Tokyo. No, dont get me wrong, gw masih tetap ga pernah ke gereja seperti biasa (Sorry,mom), tapi ternyata gw cukup terkenal sampe akhirnya gw diundang secara khusus buat bermain bersama. Asoy! Karena gratis dan gw mencium ada peluang untuk menemukan calon ibu dari calon anak-anak gw, gw pun dengan muka setengah mesum memenuhi undangan via facebook untuk dateng dan unjuk kebolehan gw: bisa ngupil sambil merem.

Gw pun dateng, kenalan, sungkem ke sang pastor yang juga ikut maen, dan lalu bermain seperti biasa. Tentu saja, karena yg maen di sini semuanya orang awam, ga ada yg sadar kalo gw memegang raket legendaris warisan The Onosatou: Rackexcalibur. But I played it cool, cuek karena cowo adalah paling ganteng saat cuek. Di luar dugaan, ternyata ada seseorang yang menyadari ukiran kaligrafi yang ada di Rackexcalibur dan ternyata, ada cerita yang lebih dalam di balik Rackexcalibur yang ternyata gw ga tau. Asek, gaul abis story telling gw.

Romo Don Joan (bukan nama sebenarnya), ternyata selama ini memperhatikan gw selama gw bermain dengan fantastis dam rupawan. Doi melihat gerakan2 gw dan lenggak-lenggok tubuh gw dan setelah gw melakukan lompatan super tinggi untuk melakukan smash maharani yang mana akhirnya gagal gara-gara salah timing, doi pun sadar bahwa raket gw bukanlah raket biasa. Seusai badminton, doi pun menghampiri gw dan menanyakan darimana gw dapet raket tersebut dan seketika, langit pun menjadi hening.

Gw pun menceritakan ke doi tentang Rackexcalibur yang diwariskan dari Onosatou-san. Doi pun meminta ijin untuk memegang dan melihat Rackexcalibur dan gw pun menyerahkan raket tersebut ke doi. Doi pun memperhatikan dengan seksama setiap ukiran2 kaligrafi bahasa Jepang kuno yg terukir di frame Rackexcalibur dan menyentuhnya dengan lembut, seolah doi punya cerita sendiri dengan Rackexcalibur. Tak lama doi pun menarik nafas panjang dan mengalihkan pandangan matanya ke gw.

Doi pun menceritakan ke gw sejarah doi dengan Rackexcalibur.

Ternyata, di seluruh penjuru Jepang ini, ada 7 raket legendaris yang keberadaannya sekarang tidak diketahui kecuali Rackexcalibur. Setiap raket tersebut memiliki ukiran kaligrafi khusus di framenya dan setiap raket memiliki elemen khusus yang akan memberikan kekuatan tersendiri bagi pemegangnya (Pengen pake kata its wielder, tapi ga tau terjemahan ciamiknya enaknya apa). Rackexcalibur sendiri adalah raket yang paling unik di antara ketujuh raket tersebut karena tidak memiliki elemen apapun (Klo istilah gamenya: non-elemental) dan juga sekaligus tidak memberikan kekuatan khusus pada pemegangnya. Lantas kenapa Rackexcalibur disebut raket legendaris? Gw sendiri masih belon ngerti. Mungkin di sequel berikutnya misteri ini akan terkuak. (Asek).

Eniwei Romo Don Joan pun melanjutkan ceritanya. Ternyata, kurang lebih satu abad yang lalu (Ini romo atau vampir), doi pernah berhadapan dalam PHMB (Pertandingan Hidup dan Mati Badminton) dengan pemegang raket legendaris lainnya: Mjollket. Mjollket adalah raket legendaris berelemen petir yang memberikan pemegangnya kemampuan untuk melakukan smash dengan suara halilintar. Romo bertanding dengan gagah namun dia tidak dapat menandingi kekuatan Mjollket. Doi pun menyadari klo raket gw adalah salah satu raket legendaris dari ukiran kaligrafi di frame Rackexcalibur yang some how mirip dengan yang ada di Mjollket. Gw pun terdiam dan hening. Postingan ini makin jauh ngelanturnya.

Eniwei, romo sadar bahwa gw yang saat ini belon bisa mengeluarkan potensi Rackexcalibur yang sebenarnya. Adapun itu dikarenakan gw yang masih suka menkonsumsi soda di malam hari dan karena grip Rackexcalibur yang belum diganti. Doi selaku seorang pemimpin spirituil merasa iba bertanggungjawab untuk me-nurture gw dan akhirnya memberikan grip baru ke gw untuk Rackexcalibur. Dengan harapan sangat besar doipun menyerahkan satu2nya grip yang ia miliki untuk mengupgrade Rackexcalibur. Namun doi menuntu satu syarat dari gw: Gw harus melepas grip yang lama dan memasang grip yang baru sendiri di dalam ruang tertutup sambil dengerin musik Jazz agar menciptakan ikatan antara gw dan Rackexcalibur. Asoy! Pulang badminton pun gw bersiul riang gembira, lumayan dapet grip gratis.

Sesampainya di rumah, gw pun lgsg melaksanakan amanah tersebut. Matiin lampu, setel musik keroncog (Karena gw ga punya lagu jazz dan lagi keroncong adalah lagu yang komposisi keasoyannya kurang lebih setara dengan jazz. Sayangnya gw melupakan satu hal penting: Gw belon pernah ngeganti grip raket seumur idup gw.

Gw pun langsung berkonsultasi dengan partner badminton gw sekaligus sidekick gw dalam membasmi kejahatan: Reza, tentang cara ngeganti grip badminton yang baik dan benar. Pertanyaan pertama gw adalah: Masangnya dari atas atau dari bawah? Kita berdua pun termenung selama setengah jam dan tanpa solusi, akhirnya gw pun memutuskan untuk go with my instinct dan ngegulung grip tersebut dari bawah gagang, terus naek sampe atas, terus baru terakhirnya dilem pake stiker2an biar ga lepas. Dan, ternyata, ngegulung grip itu ga segampang yang gw kira. Kini gw tau kenapa si romo nyuruh gw masang sendiri.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Eniwei, setelah beberapa kali gulung-lepas-gulung-lepas-gulung-lepas gara2 kekendoran melulu, akhirnya gwpun sukses ngegulung gripnya sampe atas gagang dengan sempurna. Derajat kemiringan pemasangan 37.5 derajat dengan overlap antar lapisan grip sebesar 2.125mm. Sesuai dengan kriteria World Badminton Association. Lalu gw pun dihadapkan dengan masalah kedua: Ud nyampe ujung atas gagang, gripnya masih nyisa banyak. Reja pun dengan entengnya menyuruh gw untuk memotong grip yang ‘sisa’ tersebut, tapi mama gw selalu berkata: ga baik nyisain makanan. Alhasil, gw pun dilema, pundung dan merenung, sementara Reja kembali ke kamarnya karena kebelet.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Gw pun akhirnya nelpon mama, minta ijin buat motong grip yang kelebihan sama sekalian minta dibeliin tiket pulang buat liburan musim panas nanti (Yes!). Dan akhirnya, Rackexcalibur pun berhasil diganti gripnya dengan sukses. Asoy!

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

RACKEXCALIBUR II

Setelah sukses ganti grip, ga berapa lama setelahnya, gw pun langsung maen bareng Reja dan langsung make Rackexcalibur II alias Rackexcalibur yang ud diupgrade gripnya dan tak disangka-sangka, efeknya bener2 berasa. Ya, berasa lebih enak di tangan. Walaupun begitu, tidak dapat dipungkiri bahwa skill gw tidak berubah banyak dengan grip baru ini. Gw masih belum bisa mengalahkan gadis-gadis SMA yang suka maen di Tsurumi Sport Center. walaupun begitu, gw yakin, akan datang hari dimana gw bisa mengalahkan mereka. Ya, gw yakin.

Stepen – The Chosen Wielder of Rackexcalibur II

Pos ini dipublikasikan di Cerita Serius dan tag , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Rackexcalibur II

  1. Ping balik: Rackexcalibur III : The Legend Ends | stepenautis

  2. Ping balik: Rackexcalibur III : The Legend Ends | stepenstependotcom

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s