Zombie Apocalypse: Nakadai Story Episode 3

Stepen berjalan menaiki tangga dengan lemas. Lantai satu dan lantai dua gedung A, satu per satu telah ia coba ketuk dan buka, namun seluruh pintu terkunci dan tak ada jawaban dari ketukan ataupun teriakan ‘sumimasen’ yang ia lontarkan tidak terlalu keras agar tidak menarik perhatian. Ia pun tidak berharap banyak untuk menemukan seseorang di lantai 3, namun ia tetap memaksakan dirinya.

Sesampainya ia di lantai tiga, ia langsung berjalan melewati 4-5 kamar dan melesat langsung menuju kamar nomor 310. Ya, ia teringat akan Alvi, kawannya yang tinggal di lantai 3. Sepengingatannya, Alvi juga baru saja patah hati dan di pembicaraan terakhir, Alvi sempat mengatakan bahwa ia mungkin tidak pulang ke Indonesia. Sekali lagi, Stepen pun kembali berharap, namun lagi-lagi ia harus kecewa. Pintu kamar terkunci rapat dan Alvi bukanlah orang yang suka mengunci kamarnya, bahkan pada saat ia pergi keluar dari dorm. Ia sangat percaya akan kejujuran orang Jepang dan sangat yakin bahwa tidak akan ada orang yang masuk ke kamarnya untuk mengambil sesuatu. Jikalah ada, itu adalah Stepen sendiri.

Stepen pun berjalan balik ke arah pintu tangga dan mulai mengetuki pintu kamar satu per satu secara berurutan dari tangga. Bahkan di dalan keadaan seperti ini pun ia masih menyerah kepada OCDnya.

***

Stepen berdiri di depan pintu lorong lantai 4 yang terkunci dengan pin elektronik. Ia tak seharusnya berada di lantai ini karena ini adalah lantai khusus kamar wanita. Laki-laki dilarang naik ke lantai ini dan lantai 5 dan sebuah kamera pengawas terpasang di depan elevator untuk memastikan hal itu. Ia mencoba mengintip dari jendela pintu dan mendapati lorong yang kosong. Ia pun memutar kepalanya, memikirkan apa yang sebaiknya ia lakukan. Hatinya berharap ada seseorang dibalik pintu yang terkunci ini yang bisa menemaninya melewati neraka ini namun logika mengingatkan dirinya bahwa kemungkinan itu sangat kecil. Ia pun dengan iseng menekan tombol pin pintu tersebut, mencoba peruntungannya.

1, 2, 3, 4…

Dan bunyi ceklik pun membelalakkan matanya sekaligus melukiskan senyuman di wajahnya. Siapa yang sangka pin untuk gerbang lantai 4 hanyalah 1234. Dengan perlahan, ia pun memutar knob dan membuka pintu tersebut.

Ia pun langsung melakukan rutinitas yang telah ia lakukan di lantai 1, 2, dan 3: mengetuk pintu setiap kamar dan berharap ada seseorang yang masih tinggal di asrama. Namun setelah lima pintu pertama tidak memberikan jawaban apapun, ia pun kembali mempercayai logikanya dan meragukan hatinya. Ia pun beranjak ke pintu berikutnya, pintu nomor 406, mengetuk pintu kamar tersebut sambil berteriak ‘sumimasen’. Dan setelah beberapa kali mengetuk dan memanggil, ia pun mendengar suatu suara dari balik pintu. Ia pun mengetuk lebih keras lagi dan berteriak ‘sumimasen’ sedikit lebih keras lagi. Suara langkah kaki pun terdengar mendekati pintu dan Stepen pun tersenyum. Ia mundur satu langkah dari pintu, seolah ingin memberikan jarak pada wanita yang akan membukakan pintu tersebut untuknya. Dari posisinya berdiri saat ini, ia memperhatikan celah pintu dan melihat ke arah slot kunci, menanti saat dimana kunci pintu kamar tersebut dibuka. Sayangnya, yang ia dapat adalah bunyi benturan ringan dari balik pintu.

Stepen pun kaget dan refleksnya membuat ia melontarkan kata ‘daijoubudesuka?’. Tak ada jawaban.

Ia melangkah mendekati pintu kamar 406 perlahan-lahan, menyandarkan tangannya ke pintu dan mengulangi kata ‘daijoubudesuka?’. Masih tak ada jawaban. Yang ia dengar hanyalah suara nafas yang tak berirama dari balik pintu tersebut.

Raut wajah Stepen pun berubah dan ia mulai gemetar. Ia tahu siapa, atau apa yang ada di balik pintu itu. Namun hatinya seolah menolak untuk mempercayainya. Masih membeku di depan kamar 406, aroma tak sedap mulai menghampiri hidungnya, seolah memberikan satu lagi tanda bahwa dugaan ia benar, namun ia masih menolak untuk percaya. Ia pun menutup hidungnya dengan tangan kirinya, mengeluarkan pisau lipat dari kantong depan tas carriernya dan memegangnya dengan tangan kanannya lalu sekali lagi bertanya, ‘daijoubudesuka?’.

Suara hantaman ringan dari balik pintu pun terdengar, seolah menjawab pertanyaan Stepen sekaligus mengagetkan dirinya dan membuat ia mundur selangkah dari pintu. Kini, suara gesekan terdengar dari balik pintu menemani suara nafas yang sesekali diselingi erangan yang ringan. Stepen pun menelan air ludah sembari menahan aroma tak sedap yang semakin menusuk hidungnya. Ia pun mengumpulkan segenap keberanian yang ia miliki dan menorehkan tanda silang yang cukup besar pada pintu kamar 406 dengan pisau lipatnya. Tak lama, ia pun berlalu berjalan memeriksa pintu kamar selanjutnya, sambil sesekali mengalihkan pandangannya ke kamar 406, memastikan pintu kamar masih tertutup rapat.

***

Stepen berjalan mendekati pintu masuk lobby, berusaha untuk memantau keadaan dari balik kaca tipis yang memisahkan lobby asramanya dari dunia luar. Sebercak cairan kental berwarna merah menempel di ketinggian matanya, mengingatkan ia akan apa yang ia lihat pagi tadi saat membeli sekaleng pepsi dari vending machine. Kali ini, ia tidak melihat apapun sepanjang mata memandang, namun pemandangan kosong itu justru memberikan rasa khawatir tersendiri bagi dirinya. Sekali lagi, ia menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan, mencoba mendapatkan pandangan yang lebih baik dan melihat ke balik sudut mati pandangannya. Setelah kurang lebih 5menit tertegun di depan pintu masuk lobby, ia pun mengeluarkan dompet yang dari kantung celananya, membuka kunci pintu lobby dengan NFC card yang ia sematkan di dalam dompetnya dan perlahan membuka pintu masuk lobby. Untuk terakhir kalinya, ia menoleh ke belakang, menelan air ludahnya, dan memantapkan dirinya keluar dari asrama.

fin

Pos ini dipublikasikan di Zombie Apocalypse. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s