Rackexcalibur III : The Legend Ends

Ini adalah sekuel dari postingan Rackexcalibur II yang adalah sekuel dari postingan Rackexcalibur!. Untuk memahami lebih detail sekuel dari sekuel ini, silahkan baca terlebih dahulu postingan Rackexcalibur! dan Rackexcalibur II yang mana adalah sekuel dari postingan Rackexcalibur!. Sangat dianjurkan untuk membaca terlebih dahulu postingan Rackexcalibur! sebelum membaca postingan Rackexcalibur II. Jangan membaca postingan  Rackexcalibur II tanpa membaca postingan Rackexcalibur! terlebih dahulu sebelumnya karena jika kalian meembaca Rackexcalibur II dahulu sebelum membaca Rackexcalibur!, maka semuanya akan menjadi gelap. Adapun paragraph ini gw tulis sebagai pengantar dan bukan semata-mata sengaja dilakukan untuk meng-abuse SEO blog gw dengan berulang-ulang menampilkan link ke postingan Rackexcalibur! dan Rackexcalibur II. Oke, here we go!

OLYMPUS DIGITAL CAMERAOLYMPUS DIGITAL CAMERA

Seperti yang kalian tau dari postingan Rackexcalibur II yang adalah sekuel dari postingan Rackexcalibur! (okay, stop it Stepen!), Juni yang lalu, raket legendaris yang gw terima dari The Onosatou-san pun power-up dengan grip baru yang gw terima dari Romo Don Juan. Semenjak itu, permainan Badminton gw pun membaik dan sempat hampir berhasil mengalahkan cewek SMP yang biasanya mengalahkan gw telak. Namun tidak disangka, kemampuan tersebut membuat gw terlena dan manja. Ya, I was blinded by such power that I started to get cocky and slacking off. And here is the story about the bad effect of slacking off.

Kurang lebih sebulan yang lalu, sidekick sekaligus weker personal gw, Reza Kemben, pulang gw negeri Indonesia untuk mendapatkan tambatan hatinya, meninggalkan gw selaku super hero untuk beraksi sendiri membasmi kejahatan di dunia perbadmintonan. Alhasil, karena angkuh akibat terlalu dimanja Rackexcalibur II yang ud di-power up, plus ga adanya Reza Kemben yang membangunkan gw untuk sesi badminton di sabtu pagi, gw pun slacking off selama kurang lebih sebulan dan menghabiskan seluruh weekend gw di kasur, meditasi sambil ngupil. Dan tanpa gw sadari, kemampuan gw pun sedikit demi sedikit terkikis dan kepekatan chakra gw pun memudar.

Reza Kemben di sisi laen, justru doi berkelana keliling Jepang dengan sahabatnya, Melon Kolis, mengasah ilmu dan tenaga dalam mereka lewat perjalanan 16kippu yang mereka lakukan tanpa makan dan minum sedikitpun, kecuali di saat mereka lapar dan haus. Mereka berdua memaksakan fisik mereka melampaui batas sampai akhirnya menemukan penerangan di tempat tujuan mereka: Hakodate, yang bila diterjemahkan secara ngaco ke bahasa Indonesia, nama tempat tersebut berarti gua bulu tangkis. Ternyata, Reza Kemben telah mengetahui bahwa salah satu dari 7 raket legendaris yang tersebar di seluruh penjuru Jepang dan dengan sengaja meninggalkan gw untuk mencari raket tersebut bersama Melon Kolis. Dan perjalanannya pun tidak sia-sia.

Setelah 4 hari menempuh perjalanan 16kippu tanpa makan dan minum sedikitpun kecuali di saat mereka lapar dan haus, mereka akhirnya sampai di mulut gua bulu tangkis. Mereka pun memasuki gua tersebut dan menjelajahinya sampai ke ujung yang paling dalam. Setelah kurang lebih 30 detik menelurusi seluruh ujung goa, akhirnya mereka pun sampai pada satu meja altar besar di dalam gua tersebut. Di atas altar tersebut, berbaring sebuah tengkorak yang telah termakan usia yang menggenggam erat sebuah raket usang yang disandarkan di atas dadanya. Pada frame itu, terukir tulisan kaligrafi dalam bahasa Jepang kuno yang berbunyi: “Endi, nang kene lo” yang artinya angin yang melambai.

Reja pun mengambil raket tersebut dari tangan sang tengkorak dan seketika angin sepoi-sepoi berhembus dari seluruh penghubung goa. Tengkorak tersebut pun terangkat dari altarnya, seolah diterbangkan oleh angin sepoi-sepoi tersebut dan tiba-tiba cahaya biru merebak masuk menyinari tengkorak tersebut dan seketika tengkorak tersebut memudar menjadi debu-debu yang tertiup angin sepoi-sepoi tersebut. Reja pun menundukkan kepalanya dan segera berlalu dari gua bulu tangkis tersebut. Dan di mulut gua, Reja pun kaget mendapati penduduk desa yang telah menunggunya sambil bersujud.

Penduduk desa pun menceritakan kepada Reja bahwa sejak jaman Nobunaga dahulu, seorang pandai besi legendaris menciptakan raket badminton yang ditempa dengan angin sepoi-sepoi, namun karena kekuatan yang terlalu besar, pandai besi tersebut takut taket tersebut disalahgunakan dan doi pun menyegel raket tersebut di Hakodate bersama jasadnya, menunggu orang yang pantas untuk memegang raket tersebut dan ternyata orang tersebut tak lain tak bukan adalah Reza Kemben yang dengan tak bosan2nya harus gw ingatkan sekali lagi, bahwa doi adalah sidekick gw. Ya, adapun raket tersebut diberinama Masamunetz dan kekuatan spesial dari raket tersebut adalah dapat menciptakan angin semilir sepoi-sepoi saat diayunkan dengan sekuat tenaga. Ya, sebuah kekuatan spesial yang sangat berguna khususnya di musim panas ini.

Eniwei, Reza pun pulang dengan membawa raket legendari berelemen angin sepoi-sepoi, Masamunetz, tanpa menceritakan kepada gw tentang hal tersebut. Rupanya, doi cukup geram dengan gw yang terlena oleh kekuatan baru Rackexcalibur dan bermalas-malasan sepaanjang hari. Sampai di suatu hari sabtu yang cerah, Reja pun masuk ke kamar gw dan seperti biasa, memanggil gw untuk bermain badminton.

Singkat cerita, setelah mandi, pipis, sikat gigi, dan doa pagi mengucap syukur, gw pun pergi maen badminton dengan Reja. Kita pun memulai dengan sesi sparring ringan dan Reja pun mengeluarkan raket Masamunetz yang saat itu ia bungkus dengan kaen kafan dan tentu saja, gw yang saat itu belum tahu tentang Masamunetz, tidak tahu bahwa itu adalah Masamunetz. Anyway, kita pun memulai sesi sparring dengan Reja Kemben tetap bermain dengan keadaan Masamunetz terbungkus rapat oleh kain kafan.

Sparring pun dimulai dengan lob-lob ringan dan diselingi dengan sedikit obrolan. Reja pun mengatakan tentang gw yang makin males2an dan pembicaraan pun mulai memanas. Dengan obrolan yang mulai memanas, sparring pun ikut memanas dan obrolan ringan pun berubah menjadi sesi debat yang cukup kusir. Reza Kemben berusaha untuk menasehati gw agar tidak malas dan rajin mencuci kolor gw sementara gw yang saat itu dibutakan kekuatan dari Rackexcalibur pun panas dan akhirnya sesi sparring berubah menjadi sesi PBHM (Pertandingan Badminton Hidup dan Mati) dengan gw yang berusaha mengalahkan Reja dengan Rackexcalibur gw tanpa tahu bahwa yang ada di tangan Reja adalah Masamunetz.

Eniwei, biar ga kepanjangan postnya, pokoknya PBHM pun berlangsung dengan sengit dan akhirnya mencapai klimaks dengan skor 20-19 untuk keunggulan gw. Di saaat ini, gw pun sudah mulai curiga ada yang ga beres dengan raket Reja yang dibungkus kaen kafan tersebut. Gw merasakan adanya kekuatan yang menyala-nyala dari balik kaen kafan tersebut dan ternyata itu semua benar. Di saat skor 20-19 ini, gw pun memulai play dengan serve ciamik yang super fantastis dan Reja pun langsung menyamber servis gw dengan teknik Wind Smash. Seketika kain kafan yang membungkus Masamunetz pun sobek dan angin sepoi-sepoi berhembus menyertai smash-nya Reja. Gw yang sempat menggigil akibat angin sepoi-sepoi tersebut pun menjadi telat bereaksi dan gagal mengembalikan smash tersebut.

Gw pun menatap mata Reja dan tanpa mengucapkan satu patah katapun, gw dan Reja pun berkomunikasi via mata. Kira-kira begini pembicaraan kami:

GW: Someone’s been hiding something, eh?

R: I am not hiding something, I just dont wanna spoil myself with the power that I have and start to slack off like certain someone.

GW: Well, then, lets see if you can beat this certain someone that has been slacking off.

Dan gw pun memutuskan untuk tidak melakukan Deuce dan melanjutkan dengan Sudden Death. Skor 20 sama, dan yang memenangkan play terakir ini yang akan keluar sebagai pemenangnya. Reza pun mengangguk menyetujui dan play terakhir dari PBHM abad ini pun dimulai.

Reja memulai play dengan servis tinggi yang gw sambut dengan drive yang kental manis. Rally pun berjalan dengan seimbang selama kurang-lebih setengah jam sebelum akhirnya gw melakukan kesalahan dengan memberikan bola yang cukup tinggi di depan. Reja pun membaca bola mudah tersebut, mengangkat tangan kirinya ke atas untuk mengira-ngira jarak kok dan memindahkan titik berat tubuhnya ke kaki kanannya yang kini ada di belakang. Gw pun mengencangkan genggaman tangan gw dan berusaha untuk membaca arah dari Wind Smash yang akan Reja keluarkan. Gw pun kedip kiri dan Reja pun kedip kiri, namun Wind Smash pun dilepaskan ke arah kanan lapangan. Gw yang telah sedikit salah langkah pun melompat ke arah kanan dan menjatuhkan diri gw bak Cheetah yang hendak menerjang seekor Gazelle dan dengan ciamik pun berhasil meraih kok dan mengembalikannya dengan dropshot ajegile yang Reja hanya bisa tatap saja dari tengah lapangan karena ia masih melakukan Recovery dari Wind Smash stancenya. 21-20 untuk kemenangan gw. Namun semua itu harus gw bayar dengan harga yang mahal.

Gw pun bangkit dari jatuhnya gw dan menatap Reja dengan muka nyolot sambil mengembang kempeskan idung gw. Reja pun dengan santainya menatap kembali mata gw dan mengarahkan pandangannya ke mata gw, seolah menyuruh gw untuk menatap Rackexcalibur. Gw pun menatap Rackexcalibur dan tiba-tiba frame Rackexcalibur melengkung dan seketika patah. Gw pun membelalakkan mata gw, berusaha untuk tidak terlihat sipit, namun itulah yang terjadi. Rackexcalibur patah oleh Wind Smash Masamunetz.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Gw pun menatap Reja, menundukkan kepala gw dan berkata :

“Ja, lo bawa dua raket kan? Gw pinjem yah?”

Hingga saat posting ini diturunkan, terus terang gw masih bingung apa yang harus gw lakukan dengan Rackexcalibur yang patah ini. Gw sudah keliling Jepang selama sebulan ini untuk mencari pandai besi yang bisa mereparasi Rackexcalibur namun tak ada satupun yang menyanggupi. Setiap kali Rackexcalibur dimasukkan ke dalam bara api, Rackexcalibur sama sekali tidak memanas ataupun meleleh sehingga tidak dapat ditempa ataupun diperbaiki. Alhasil, semua pandai besi tersebut pun menolak untuk membantu gw karena tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki Rackexcalibur. Walaupun begitu, gw tidak sampai hati membuang Rackexcalibur karena ini adalah raket legendaris pemberian Onosatou-san. Opsi membeli raket baru juga tidak mungkin dilakukan karena gw terlalu pelit untuk ngeluarin duid buat raket tidak mungkin ada raket yang bisa menggantikan Rackexcalibur. Gw hanya berharap semoga dalam waktu dekat ini ada ksatria badminton lainnya seperti Onosatou-san, yang berbaik hati mau memberikan raket bekasnya legendarisnya ke gw. In the mean time, Ja, gw pinjem raket lo yah:D…

Stepen – Sedang Sedih karena Raket

Pos ini dipublikasikan di Cerita Serius dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s