Rackexcalibur II

Beberapa waktu yang lalu, gw mendapatkan raket legendaris dari legenda hidup perbadmintonan Jepang (baca prequel dari postingan ini di Rackexcalibur!) dan sejak saat itu, kehidupan perbadmintonan gw pun berubah 180derajat. Gw bukan lagi Stepen yang bermain badminton just for fun, tapi kini gw bermain badminton dengan tujuan mulia: mencari calon ibu dari calon anak-anak gw membasmi kejahatan dan membela kebenaran.Ya, setiap malam Rabu, malam Jumat dan weekend, gw bersama sidekick gw: Reja Ojongono berpatroli di Tsurumi Sport Center untuk menolong yang tertindas jika dan hanya jika yang tertindas adalah wanita cantik, muda, dan muda belia. Everything seems to be working just fine, walaupun pencarian calon ibu dari calon anak-anak gw masih belum membuahkan hasil. Namun, di suatu sabtu yang cerah, semuanya berubah.

Waktu itu, sabtu tanggal tua bulan Mei, gw diundang untuk bermain badminton dengan anak-anak gereja Indonesia di Tokyo. No, dont get me wrong, gw masih tetap ga pernah ke gereja seperti biasa (Sorry,mom), tapi ternyata gw cukup terkenal sampe akhirnya gw diundang secara khusus buat bermain bersama. Asoy! Karena gratis dan gw mencium ada peluang untuk menemukan calon ibu dari calon anak-anak gw, gw pun dengan muka setengah mesum memenuhi undangan via facebook untuk dateng dan unjuk kebolehan gw: bisa ngupil sambil merem.

Gw pun dateng, kenalan, sungkem ke sang pastor yang juga ikut maen, dan lalu bermain seperti biasa. Tentu saja, karena yg maen di sini semuanya orang awam, ga ada yg sadar kalo gw memegang raket legendaris warisan The Onosatou: Rackexcalibur. But I played it cool, cuek karena cowo adalah paling ganteng saat cuek. Di luar dugaan, ternyata ada seseorang yang menyadari ukiran kaligrafi yang ada di Rackexcalibur dan ternyata, ada cerita yang lebih dalam di balik Rackexcalibur yang ternyata gw ga tau. Asek, gaul abis story telling gw.

Romo Don Joan (bukan nama sebenarnya), ternyata selama ini memperhatikan gw selama gw bermain dengan fantastis dam rupawan. Doi melihat gerakan2 gw dan lenggak-lenggok tubuh gw dan setelah gw melakukan lompatan super tinggi untuk melakukan smash maharani yang mana akhirnya gagal gara-gara salah timing, doi pun sadar bahwa raket gw bukanlah raket biasa. Seusai badminton, doi pun menghampiri gw dan menanyakan darimana gw dapet raket tersebut dan seketika, langit pun menjadi hening.

Gw pun menceritakan ke doi tentang Rackexcalibur yang diwariskan dari Onosatou-san. Doi pun meminta ijin untuk memegang dan melihat Rackexcalibur dan gw pun menyerahkan raket tersebut ke doi. Doi pun memperhatikan dengan seksama setiap ukiran2 kaligrafi bahasa Jepang kuno yg terukir di frame Rackexcalibur dan menyentuhnya dengan lembut, seolah doi punya cerita sendiri dengan Rackexcalibur. Tak lama doi pun menarik nafas panjang dan mengalihkan pandangan matanya ke gw.

Doi pun menceritakan ke gw sejarah doi dengan Rackexcalibur.

Ternyata, di seluruh penjuru Jepang ini, ada 7 raket legendaris yang keberadaannya sekarang tidak diketahui kecuali Rackexcalibur. Setiap raket tersebut memiliki ukiran kaligrafi khusus di framenya dan setiap raket memiliki elemen khusus yang akan memberikan kekuatan tersendiri bagi pemegangnya (Pengen pake kata its wielder, tapi ga tau terjemahan ciamiknya enaknya apa). Rackexcalibur sendiri adalah raket yang paling unik di antara ketujuh raket tersebut karena tidak memiliki elemen apapun (Klo istilah gamenya: non-elemental) dan juga sekaligus tidak memberikan kekuatan khusus pada pemegangnya. Lantas kenapa Rackexcalibur disebut raket legendaris? Gw sendiri masih belon ngerti. Mungkin di sequel berikutnya misteri ini akan terkuak. (Asek).

Eniwei Romo Don Joan pun melanjutkan ceritanya. Ternyata, kurang lebih satu abad yang lalu (Ini romo atau vampir), doi pernah berhadapan dalam PHMB (Pertandingan Hidup dan Mati Badminton) dengan pemegang raket legendaris lainnya: Mjollket. Mjollket adalah raket legendaris berelemen petir yang memberikan pemegangnya kemampuan untuk melakukan smash dengan suara halilintar. Romo bertanding dengan gagah namun dia tidak dapat menandingi kekuatan Mjollket. Doi pun menyadari klo raket gw adalah salah satu raket legendaris dari ukiran kaligrafi di frame Rackexcalibur yang some how mirip dengan yang ada di Mjollket. Gw pun terdiam dan hening. Postingan ini makin jauh ngelanturnya.

Eniwei, romo sadar bahwa gw yang saat ini belon bisa mengeluarkan potensi Rackexcalibur yang sebenarnya. Adapun itu dikarenakan gw yang masih suka menkonsumsi soda di malam hari dan karena grip Rackexcalibur yang belum diganti. Doi selaku seorang pemimpin spirituil merasa iba bertanggungjawab untuk me-nurture gw dan akhirnya memberikan grip baru ke gw untuk Rackexcalibur. Dengan harapan sangat besar doipun menyerahkan satu2nya grip yang ia miliki untuk mengupgrade Rackexcalibur. Namun doi menuntu satu syarat dari gw: Gw harus melepas grip yang lama dan memasang grip yang baru sendiri di dalam ruang tertutup sambil dengerin musik Jazz agar menciptakan ikatan antara gw dan Rackexcalibur. Asoy! Pulang badminton pun gw bersiul riang gembira, lumayan dapet grip gratis.

Sesampainya di rumah, gw pun lgsg melaksanakan amanah tersebut. Matiin lampu, setel musik keroncog (Karena gw ga punya lagu jazz dan lagi keroncong adalah lagu yang komposisi keasoyannya kurang lebih setara dengan jazz. Sayangnya gw melupakan satu hal penting: Gw belon pernah ngeganti grip raket seumur idup gw.

Gw pun langsung berkonsultasi dengan partner badminton gw sekaligus sidekick gw dalam membasmi kejahatan: Reza, tentang cara ngeganti grip badminton yang baik dan benar. Pertanyaan pertama gw adalah: Masangnya dari atas atau dari bawah? Kita berdua pun termenung selama setengah jam dan tanpa solusi, akhirnya gw pun memutuskan untuk go with my instinct dan ngegulung grip tersebut dari bawah gagang, terus naek sampe atas, terus baru terakhirnya dilem pake stiker2an biar ga lepas. Dan, ternyata, ngegulung grip itu ga segampang yang gw kira. Kini gw tau kenapa si romo nyuruh gw masang sendiri.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Eniwei, setelah beberapa kali gulung-lepas-gulung-lepas-gulung-lepas gara2 kekendoran melulu, akhirnya gwpun sukses ngegulung gripnya sampe atas gagang dengan sempurna. Derajat kemiringan pemasangan 37.5 derajat dengan overlap antar lapisan grip sebesar 2.125mm. Sesuai dengan kriteria World Badminton Association. Lalu gw pun dihadapkan dengan masalah kedua: Ud nyampe ujung atas gagang, gripnya masih nyisa banyak. Reja pun dengan entengnya menyuruh gw untuk memotong grip yang ‘sisa’ tersebut, tapi mama gw selalu berkata: ga baik nyisain makanan. Alhasil, gw pun dilema, pundung dan merenung, sementara Reja kembali ke kamarnya karena kebelet.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Gw pun akhirnya nelpon mama, minta ijin buat motong grip yang kelebihan sama sekalian minta dibeliin tiket pulang buat liburan musim panas nanti (Yes!). Dan akhirnya, Rackexcalibur pun berhasil diganti gripnya dengan sukses. Asoy!

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

RACKEXCALIBUR II

Setelah sukses ganti grip, ga berapa lama setelahnya, gw pun langsung maen bareng Reja dan langsung make Rackexcalibur II alias Rackexcalibur yang ud diupgrade gripnya dan tak disangka-sangka, efeknya bener2 berasa. Ya, berasa lebih enak di tangan. Walaupun begitu, tidak dapat dipungkiri bahwa skill gw tidak berubah banyak dengan grip baru ini. Gw masih belum bisa mengalahkan gadis-gadis SMA yang suka maen di Tsurumi Sport Center. walaupun begitu, gw yakin, akan datang hari dimana gw bisa mengalahkan mereka. Ya, gw yakin.

Stepen – The Chosen Wielder of Rackexcalibur II

Dipublikasi di Cerita Serius | Tag , , | 2 Komentar

Mencoba Bikin Video

Gw adalah orang yang suka berpetualang, walaupun akhir-akhir ini, lebih sering ngaku-ngaku petualang daripada bertualang beneran. Tentu saja, selama bertualang, adalah hak asazi gw untuk bernarsis-narsis ria ataupun berlagak seolah gw kameramen profesionall dari National Geographic. So, sudah wajar klo gw selalu membawa pulang foto-foto dan video burem setiap kali pulang dari ngetrip dan ngepost foto-foto tersebut di facebook, supaya temen-temen gw ngiri tau betapa indahnya Indonesia. Sayangnya, I don’t think anyone likes to watch for example, my full 15minutes snorkleing video yang mana bagian yg menariknya cuman sebentar, sisanya, adegan gw ngelap ingus.

Gw sebenernya kepikiran buat diedit-edit terus ditempel-tempel biar kaya summary gitu. Unfortunately, niat cuman niat, tapi ga dieksekusi (Klasik). Until one that, some cheeky little brat that I went with to Sawarna make a video of her trip that includes me, rolling around elegantly at the beach like Natalie Portman from The Black Swan. Videonya doi sih biasa aj (Serius, I am not being subjective here) dan yang menyedihkannya, hingga postingan ini ditulis, video tersebut cuma punya 28 views dan gw yakin dari 28 views itu, 20 view pasti dari keluarganya sendiri. Eniwei, but the video is good (Tadi katanya biasa aj), and it kinda makes me want to make that kind of video too.

Btw, berikut adalah video tersebut, featuring my epic spinning cam and my epic roll on 1:00.

So, gw pun termotivasi. But then, motivasi cumanlah motivasi belaka dan seperti biasa, ga ada eksekusi.

But then, last sunday, gw iseng nongkrong/numpang ngadem/eksploitasi drink bar di Saizeriya sambil ngebrowse2 foto-foto gw dan video gw ke Togean kemaren and suddenly the motivation to make that kind of video came back. Dan secara menurut gw, gw bakal terlihat sangat keren ke cewe2 SMA yang lagi duduk2 di sebelah gw klo keliatan gw lagi kerja ngedit2 video sambil menyeruput Jeruk Squash hangat, jadilah gw kemaren hari minggu ngedit-ngedit video sambil sesekali tebar pesona menyibakkan rambut gw yang panjang. Asoy!

To tell you the truth, secara waktu gw ngambil video2 dan foto2 di Togean, gw ga ada niatan buat bikin video2an cem video di atas (It is purely my autistic sense that tells me to take the shot, not my artistic sence. Hell I dont have that one!). Alhasil, menurut gw, video2 yang gw ambil agak2 gak terlalu cocok buat dibikin video2an cem video di atas. But then, I just went through with in and do it anyway. Semua demi TP TP ke cewe SMA di sebelah. Sayangnya, video belom beres dibikin, para cewe2 SMA tersebut keburu pulang. Gw pun berhenti langsung berhenti ngedit2 videonya dan langsung buka facebook.

Anyway, yesterday, the motivation suddenly came back again and somehow I finished the video. It wasn’t anything as good as the video above, but I am gonna publish it anyway supaya temen2 gw ngiri tau betapa indahnya Togean. So, without further ado, here it is My first video debut:

Hope you like the video. Kalo enggak, silahkan ambil kantong muntah yang tersedia di bawah kursi anda.

Stepen – Director/Cameraman/Editor/Figuran

Dipublikasi di Cerita Ga Serius, Cerita Petualangan Liar Saya, Curhat | Tag , | 2 Komentar

Togean Family Trip: Klomang Battle Royale

Secara tujuan trip ini adalah Togean, haram hukumnya kalau gw ke sini tapi ga diving. Ke Togean ga diving itu sama aj kaya makan nasi goreng ga pake nasi: ga ada artinya. Tentu saja secara gw pergi bersama bonyok, adalah penting bagi gw untuk mengumumkan bahwa gw mau diving karena saat gw diving, bonyok gw mau ga mau cuman bisa menunggu di kapal ataupun di penginapan dan mereka mungkin bosen. So, I said that and they said they are okay with it. Nyokap bilang nyokap bisa maen-maen sendiri di pantai dan bokap bilang bokap tinggal tidur di penginapan atau cari makan. So, they are okay with it and the trip is settled.

Tanggal 29 April, gw pun tiba di Togean, tepatnya di suatu penginapan yang bernama Black Marlin (Yang mau ke Togean, I really recommend this place, seriously, try googling it, it has a good reputation and does live to your expectation, at least for me) yang kebetulan punya diving center (Ga kebetulan juga sih, emang ud gw google2 dari sebelon berangkat). Ga mau menyianyiakan waktu gw di Togean, gw pun langsung request untuk melakukan 2x diving di hari pertama ini. Yep, first day on Togean and I am leaving my parents behind already. Off I go, mom!

Gw melakukan diving pertama gw sekitar jam 10an dan balik sekitar jam 12an dengan makan siang gw yang ud siap disikat sama bokap. Selama gw diving, mereka cuman nongkrong di cafe penginapan dan bersosialisasi. Well, pretty normal I guess. Tadinya gw pikir pas gw tinggal diving, bokap langsung kalap dan ngabisin semua makanan yang ada di penginapan sementara nyokap langsung kalap dan ngerapihin semua barang-barang yang berantakan di penginapan (Yup, I got my OCD from my mom). Apparently they are doing well without me. Gw pun lega dan dengan hati tenang meninggalkan kembali kedua orang tua gw untuk diving lagi. Yeah, diving, baby!!!

Beres makan siang, gw pun leha-lehe sebentar dan langsung capcus lagi untuk diving. Sebelum berangkat, tak lupa gw salim sama bonyok, cause they are also paying for my diving expense, mwuahahahaha (insert evil emoticon here, please).

Sekitar jam 3an, gw pun kembali dari diving gw dan mendapati bonyok gw lagi duduk-duduk di depan kamar penginapan. Again, gw pun menarik napas lega karena bonyok gw tidak melakukan hal yang aneh selama gw pergi diving. Apparently, I was wrong for this time. Selama gw pergi diving, nyokap ternyata pergi maen-maen sendiri di pantai sambil lompat-lompat dan melupakan kenyataan bahwa kalo umurnya ud 50 taon ke atas. Selama maen-maen di pantai, her autism kicked in (Yeah, I got my autism from her too) and suddenly she decided she is going to collect some shells to take home with. So she did, without even finding out first if that was even allowed. Selama doi ngumpulin kerang, sebagai bonus, doi juga mungutin klomang. Then she went back to the lodge.

So, nyokap pun balik ke penginapan dengan banyak klomang, bokap ngeliat hal tersebut and suddenly his scientist instinct kicked in (Yup, I got this one from my dad). Bokap pun memutuskan untuk menaruh semua klomang yang ‘ditangkep’ bokap ke dalem botol Aqua (bukan promosi) menaruhnya di atas meja dan mengamati klomang seperti apa yang bisa keluar paling cepet dari botol Aqua tersebut dan klomang seperti apa yang berani lompat dari atas meja begitu beres keluar dari botol Aqua.

Gw yang lemes dan cape but extremely happy from my dive pun pulang dan mendapati bokap gw yang sedang mencermati dengan seksama pertarungan antara para Klomang yang masih struggle untuk keluar dari botol Aqua dan Klomang-Klomang yang gemeteran di ujung meja karena ga berani lompat. Gw yang adalah aktivitis satwa langka pun langsung geram dan naik pitam. Dengan suara lantang, gw pun ngomelin bokap gw:

“Pa! Kok ga direkam sih? Lumayan buat ditaroh di blog!”

Dan gw pun memulai ulang ronde 2 dari Klomang Battle Royale. Berikut adalah siaran ulang dari Klomang Battle Royal, eksklusif, hanya di www.stepenautis.wordpress.com.

Sebelum gw dituntut oleh WWF, perlu gw tegaskan bahwa adegan-adegan battle royale di atas adalah adegan berbahaya yang dilakukan oleh klomang professional dan terlatih dan dalam environment yang aman dan terjaga. Sangat tidak disarankan untuk tidak menirukan adegan tersebut di rumah ataupun di tempat umum. Gw juga perlu tekankan bahwa no Klomangs is harmed during the making of this video and all Klomangs were safely returned to their habitat after the shooting is over. Note that, kaya pelem-pelem Marvel, there is one post credit scene di video di atas. So, make sure you watch it closely and don’t skip ahead.

Okay, kidding aside, this is a real scientific experiment dan ini adalah konklusi yang didapet oleh bokap gw dari hasil mengamati tingkah laku Klomang selama Klomang Battle Royale.

  1. Klomang yang paling cepat keluar dari botol Aqua adalah klomang yang keluar pertama dari botol Aqua.
  2. Klomang yang jatuh dari pinggir meja adalah klomang yang ada di pinggir meja sebelum mereka jatuh.

Fantastic conclusion. I am proud of you, Dad.

Well, kira-kira demikianlah kisah kasih keluarga gw di Togean di hari pertama. Sekarang, saatnya gw hijrah dulu ke WC karena terlalu banyak mengeksploitasi drink bar di saizeriya. Salam Klomang!

Stepen – Promotor Klomang Battle Royale

Dipublikasi di Cerita Petualangan Liar Saya | Tag , | 1 Komentar

Togean Family Trip: The Epic Intro

Para fans setia sekalian, gw yakin kalian semua pasti ud tau kalau liburan Golden Week, gw pergi ke Togean. Yup, tapi berbeda dengan trip-trip sebelumnya, karena kali ini gw jomblo dan ga punya temen (Yeah, I am that sad and pathetic :D) saat trip direncanakan, gw pun berpikir out-of the-box dan mengundang nyak dan babe gw untuk pergi bersama gw. Yay! Kenapa gw ngundang nyak babe gw? Simple, cause when you go with your parents, they pay for everything. Yep, and by everything I mean everything. They even pay for my ‘uang kebersihan toilet’. So, long story short, dengan semua keribetan dan tetek bengek ala mak-mak, tanggal 28 April sampe 2 Mei kemaren, pergilah gw, nyak, babe, dan nyokap.

Seperti kata pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya, apparently, autism runs in the family and that’s what I find out from the trip (Duh, kemana aj gw selama ini). So, dalam rangka menghormati keautisan bokap dan nyokap gw, I’m gonna write several post tentang mereka selama trip gw ke Togean. And, since I love creating list of post of what story to tell without enough motivation to properly write it, here is another list of it to satisfy my OCD and bump up my SEO.

Togean Family Trip: (Prequel) Why you should travel with you parents?

Togean Family Trip: Klomang Battle Royale

Togean Family Trip: Encounter with Pinky

Togean Family Trip: Sekali Cina, Tetap Cina

Seperti biasa, daftar di atas bakal diupdate dan dikasih linknya begitu postingannya selesai ditulis (yang mana I am planning to write two of them today). As for now, feast yourself on the beauty of Togean and patiently wait for the epic tale of my adventures in Togean, featuring mom and dad.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Stepen – Ud Pernah ke Togean

Dipublikasi di Cerita Petualangan Liar Saya | Tag | Meninggalkan komentar

Stepen Goes To The Future: Jendela Gaul

Hari selasa, 5 Mei 2015, adalah hari yang spesial buat gw. Kenapa? Karena di hari tersebut, gw berkesempatan buat naek pesawat gaul B787 Dreamliner (Yeah, baby, next up: A380!). Yup, jadi ceritanya, untuk perjalanan gw balik dari Indonesia ke Jepang yang kali ini, gw disponsori oleh bokap, dan mumpung disponsori, gw pun selaku manusia sipit pada umumnya langsung memanfaatkan keadaan dan minta bokap beliin gw tiket pesawat yang ga LCC. Sebenernya sih, gw sendiri ga expect buat dapet 787 buat flight gw, tapi ternyata bokap gw beliin gw tiket Garuda yang ternyata partneran sama ANA buat rute Jakarta-Narita. Long story short, gw pun dapet 787 buat rute pulang gw. And trust me, as an aerospace engineering graduate, it is really awesome when you get to ride the newest design, yang mana saat ini predikat tersebut dipegang oleh Boeing B787 dan Airbus A380.

Being an aerospace major, tentu saja gw ud tau keberadaan pesawat 787 ini dari waktu pesawatnya belon jadi (Sumpah, gw ga boong). Bahkan waktu gw masih kerja di Garuda 4-5 taon yang lalu, gw klo ga salah inget sempet ikutan presentasi Boeing yang nawarin 787 (Suer, gw ga boong). So, basically, gw ud tau tentang trademark 787 in terms of their interior, which is The Sky Interior (Bener, gw ga boong). Apa itu Sky Interior? Basically, klo ga salah ada 3 konsep utama dari Sky Interior: bentuk dan desain overhead bin yang ngelengkung supaya bagian atas keliatan lebih spacious, lighting kabin yang biru2 unyu yang katanya bikin rileks, dan yang terakhir, tentu saja benda yang jadi judul dari postingan ini: Jendela Gaul.

Apa yang dimaksud dengan jendela gaul? Biasanya, di pesawat, jendelanya ada tutupannya yang bisa dinaek-turunin buat nutup atau buka jendelanya. Tapi tidak untuk jendela gaul. Jendela gaul 787 ga punya tutupan yang bisa dinaek-turunin buat buka/tutup jendelanya, instead, ada tombol yang bisa dipencet2 buat ngatur tinting jendela, jadi si jendela bisa ngatur banyaknya cahaya yang bisa lewat, yang akhirnya bikin jendelanya lebih terang atau lebih gelap.

Jujur aj, waktu gw naek 787, gw ud terlalu kegirangan kaya bocah yang namanya tercantum di koran bagian pengumuman SMPB dan gw bener2 ga inget feature jendela gaul ini walaupun gw sebenernya dapet window seat. Waktu take-off pun gw juga ga pernah terlalu ngutak-ngutik jendela doank, palingan cuman melototin sayap sampe mata jereng, leher patah, dan ketek ambeien (Ya, ketek juga bisa ambeien), jadi, gw bener-bener ga sadar/inget tentang jendela gaul ini sampe waktu gw pergi ke toilet buat pipis. And this is where the story starts.

Jadi, gw pun ke toilet, buka resleting celana, turunin celana, terus pipis seperti laki-laki pada umumnya: berdiri tegak dengan satu kaki sambil melet. Beres pipis, tentu saja, gw yang laki-laki gentlemen ini kudu ngeflush hasil pipis gw, agar orang berikutnya ga mati keracunan saat masuk WC ini. So, gw pun mengalihkan pandangan gw ke atas jamban dan memencet tombol flush berbentuk stengah lingkaran yg ada di atasnya jamban. Berikut kira2 penampakannya. Beres, dan gw pun nutup jambannya, buka pintu, dan jalan balik kursi gw. Unfortunately, that was not the flush button.

KIMG0051

So, tanpa tau klo gw gagal ngeflush pipis gw, gw pun duduk manis di kursi gw dan lanjut nonton pelem, sampe pada akhirnya, gw merasa jendelanya mulai silau en ngeganggu ritual nonton pelem gw. Gw pun memutar leher gw ke arah jendela dan akhirnya sadar klo jendelanya ga ada tutupan yang bisa ditarik2, instead, gw menemukan tombol flush tersebut. Berikut kira-kira penampakannya.

KIMG0045

Eniwei, begitu gw ngeliat tombol flush ini, akhirnya gw pun inget klo 787 ini punya jendela gaul yang bisa diatur dan gw sadar klo ini brarti tadi gw enggak ngeflush pipis gw. Dan tiba2, gw pun mendengar suara orang terjatuh yang disusul dengan bunyi mobil ambulans dan mobil pemadam kebakaran. Gw pun bersiul pura-pura amnesia.

Eniwei, sadar klo jendela 787 ini ga lazim, mode norak gw pun keluar. Gw pun langsung nyobain mencet2 tombol tersebut en serius, jendelanya beneran bisa jadi tambah terang atau tambah gelap sesuai keinginan. Ajaib. Dan again, supaya para pembaca blog ini nantinya ga norak dan kibas2 ekor kaya gw waktu pertama kali ngeliat jendela gaul ini, berikut adalah foto-foto autis yang gw ambil buat memperlihatkan beda keterangan jendela dari setiap setting. Enjoy!

KIMG0043 KIMG0044 KIMG0045 KIMG0046 KIMG0047

Takjub bukan? Sama donk, gw juga.

Eniwei, sekian kira-kira postingan Stepen Goes To The Future untuk yang kali ini. Sbenernya sih gw pengen ngejelasin the science behind jendela gaul ini. I’ve googled a little bit, sayang IQ, EQ, dan SQ gw ga cukup tinggi buat ngerti penjelasannya. So, bagi yang penasaran en ingin tau lebih banyak, silahkan google sendiri while I am gonna enjoy the last day of my holiday by males-malesan di kasur. Yuk yak, yuk…

Stepen – Masih Ga Tau Dimana Tombol Flushnya WC 787

Dipublikasi di Info Menarik, Stepen Goes To The Future | Meninggalkan komentar

Mengejar Kolonel Sanders (aka My First Pilgrimage Walk)

Kemarin, selaku anak gaul pada umumnya, gw pergi ke Starbuck buat nongkrong dan ngerjain tugas Coursera. Kenapa ngerjain tugas kudu di Starbucks? Karena klo di rumah, nyalain komputer tu pasti bawaannya pengen langsung maen Path of Exile melulu (TRy the game, guys, it is indie, yet it is fucking awesome). Slain itu, apparently, adalah trend masa kini buat ngerjain tugas di tempat umum. So, sebagai anak gaul kemarin sore, gw pun kudu mencoba trend ini. Tapi gw ga akan membahas tentang tongkrongan gw di Starbuck. I am gonna tell you about what happen after that.

So, ceritanya gw nebeng adek gw yang mau gunting rambut dan gw pun diturunin di Teras Kota BSD. Kenapa Teras Kota BSD? Karena gw berencana untuk makan KFC beres nongkrong. So, plan gw adalah nongkrong dari jam 1 sampe jam 7 malem di Starbuck, tentunya dengan hanya membeli satu coklat dingin ukuran kecil (Ya, gw memang sesipit/pelit itu), terus dari TeKo, jalan dikit ke Giant BSD buat makan KFC. Genius, pikir gw dalam hati.

Jadi, gw pun nongkrong, ngerjain tugas, nyampah2 dikit, dan jam 7 teng, gw pun berberes buat berangkat ke Giant BSD. Secara TeKo-Giant ini jaraknya ga terlalu jauh dan naek angkot itu terlalu ga level buat gw, gw pun selaku orang yang patuh tata tertib lalu lintas pun naek jembatan penyebrangan, turun lagi, terus jalan ke arah Giant BSD. Dengan ditemani OST-nya game Transistor (Try the game, guys, it is indie too, yet it is fucking awesome. And the ending will blow your heart away), gw pun jalan2 sambil jingkrak-jingkrak menuju Giant BSD. Setelah kurang lebih 5 menitan jalan, papan Giant pun terlihat bersama dengan papan gede A&W dan sekejap gw inget satu hal penting: Kayanya di Giant BSD ga ada KFC deh, adanya di Giant VMM.

Tidak bisa menerima kenyataan klo ga ada KFC di Giant BSD, gw pun keukeuh buat ngelanjutin jalan sampe ke Giant BSD, sapa tau gw salah inget doank dan, jeng jeng jeng jeng, ternyata beneran ga ada KFC di Giant BSD. Ternyata gw ga salah inget. Masuk ke Giant, gw disambut dengan counter A&W dan setelah celingak-celinguk 5menit, gw pun ga menemukan KFC dan akhirnya bener2 yakin klo ga ada KFC di sini. Hahaha, ternyata ingatan gw masih setajam Elang. #bangga

So, tak mau menyerah makan KFC, gw pun menginget2 lagi KFC terdekat di daerah sini dan gw inget klo ada KFC di boulevard yang gw ga tau namanya tapi terletak di antara Giant BSD sama ITC BSD, yang ada JCo-nya juga. Klo diinget-inget, jaraknya masih agak tanggung sih, tapi secara naek angkot itu terlalu ga level buat gw, gw pun lagi memutuskan untuk jalan kaki lagi, masih ditemani OST-nya Transistor. Dan gw pun kembali berjalan.

Setelah kurang lebih 15menitan jalan kali, gw pun sampe di boulevard yang gw maksud. Awalnya, gw pikir gw salah inget lagi karena yg keliatan dari jauh cuman logo JCo, thanks to mata gw yang rabun ayam. Tapi setelah agak deket, logo KFC pun keliatan dan langkah gw pun menjadi ringan, layaknya seorang narapidana yang baru dilepas borgolnya. Gw pun melangkah sambil menari sambil sesekali ngembang ngempesin idung. Dan begitu sampe pintu depan KFC, gw pun menggumamkan fanfare-ya Final Fantasy sambil melakukan gaya nyabet2 pedang ala Squall Leonheart pas beres battle. Kira2 seperti ini penampakan gw saat itu:

Squall_Leonhart

Gw pun masuk KFC dan ternyata cukup rame. Ada 2 kasir yang dibuka dan di setiap kasir ada 5 orangan yang ngantri. Selaku orang yang beradab dan budiman, walaupun klo pipis masih suka berceceran, gw pun langsung ngantri di paling belakang, masih sambil ngedengerin OST-nya Transistor. Sayangnya, semua tak berjalan sesuai prediksi gw.

Setelah menunggu kurang lebih 20menit (Gw yakin 20 menit karena ud beres 5 lagu (Yeah, thats how I measure time these days, by counting songs that has passed in my playlist)), antrian gw dan antrian sebelah sama sekali ga bergerak. Padahal dari tadi si mas-mas KFCnya kayanya hectic mondar-mandir di belakang counter. So, gw pun mikir daripada nunggu tanpa kepastian, mending gw ngesot dikit ke ITC dan makan KFC di sana, sapa tau lebih sepi. Fantastis, pikir gw. sayangnya ini adalah keputusan yang akan gw sesali 15 menit kemudian.

Gw pun beranjak keluar dari boulevard yang namanya gw lupa ini dan berjalan ke arah ITC. Jarak dari boulevard ke ITC lumayan deket, alhasil, secara angkot juga ga level banget buat gw, gw pun jalan kaki dan masih ditemani OSTnya Transistor (Damn, I really love the ending song). Ketika berjalan menuju ITC ini, beberapa angkot berhenti dan menawarkan tumpangan buat gw. Tapi secara mereka ga ikhlas dalam menolong dan mengharapkan imbalan dari gw, gw terpaksa tolak tawaran mereka, selain karena angkot ga level banget buat gw. The weird thing is: I felt good rejecting these angkots. Seolah-olah kaya gw cowo populer yang dikejar2 banyak cewe, tapi gwnya cool dan ga tertarik. Asoy!

Kembali ke laptop, beberapa menit berselang, gw pun nyampe di ITC BSD dan langsung ngelompatin pager buat masuk ke kompleks ITC. Di depan muka gw langsung KFC dan ga pake lama, gw pun langsung masuk, kali ini ga pake gaya nyabet2 pedang ala Squall Leonheart. Begitu masuk, gw pun lgsg sumringah gara2 kasirnya sepi dan ga antri. Gw pun langsung maju ke kasir, sang kasir mengucapkan selamat malam ke gw, dan gw dengan penuh wibawa langsung berujar:

Paket Super Besar 2

Sayangnya, lagi2 semuanya tak berjalan seperti keinginan gw. Sang kasir dengan senyum miris langsung menjawab:

“Tapi ayamnya tinggal yang kecil semua, mas…”

Gw pun langsung kaget, kecewa, dan masuk ke lobang hitam, kaya di kartun School Rumble (Try that anime, guys, it is fucking hillarious). Gw pun mencoba untuk tegar dan berujar:

“Klo mau yang gede kudu nunggu berapa lama mas?”

Si mas masnya menjawab dengan nada ga yakin:

“Sekitar 20 menitan, mas…”

Gw pun pingsan.

Gw mikir, daripada nunggu 20 menit, mending 20 menitnya gw pake buat jalan ke Giant VMM terus beli KFC di sana. Gw hemat waktu dan jadi lebih deket ke rumah. Beres makan, tinggal minta mama jemput deh (Iy, gw masih suka minta mama gw ngejemput gw, kan gw anak kesayangan mami). Genius dan fantastis. Harusnya gw dapet nobel untuk pemikiran secermerlang ini. Sayangnya lagi2 semuanya tidak berjalan sesuai keinginan gw.

Setelah 20 menitan berjalan, gw pun nyampe di Giant Melati dan langsung gerak cepat ke KFCnya. Sepi sih, ga ada yang ngantri. Sayangnya, rak pemanas yg biasa diisi ayemnya juga sepi. Dari jauh, gw ngeliat si masnya ngelap-ngelap, ud siap2 beres-beres, padahal waktu masih menunjukan pukul 8 malam. Nasib gw naas, namun gw ga menyerah. Karena bukan laki-laki namanya klo menyerah sebelum bisa menyantap ayam Crispynya KFC (bukan promosi).

Gw pun masih ke Giant, beli buavita rasa leci sama permen Hexos untuk memulihkan stamina gw yang hilang dan gw pun memutuskan buat jalan kaki lagi balik ke arah BSD Plaza karena di sono ada KFC. Dengan perhitungan matematis gw deengan persamaan Pythagoras, gw yakin gw bisa sampe di BSD Plaza sebelon jam 9 dan mudah2an masih belon tutup KFCnya. Ga pake lama, gw pun meluncur ke BSD Plaza, masih dengan OST Transistor yg berkumandang di headset gw. Again, gw memutuskan buat ga pake angkot karena itu ga level banget buat gw.

So, dengan semangat 45 pengen makan KFC, gw pun berjalan cepat ke arah BSD Plaza sambil nolak-nolakin abang-abang tukang ojek yang menawarkan jasanya ke gw. Dan sesuai prediksi, gw pun nyampe di BSD Plaza jam 8.30. Yang ga sesuai prediksi adalah: ternyata KFCnya ud tutup juga. Yang ini malah lebih parah, counternya ud ditutup dan lampunya ud gelap, padahal superindo yang ada di depannya masih terang benderang. Gw pun kecewa, sok, dan nyaris bunuh diri di WC umum. Gw pun berlutut dan memohon petunjuk kepada Tuhan, namun petunjuk itu tak kunjung dateng. Yang dateng malah satpam yg ngira gw agak gila karena berlutut di depan counter KFC.

Ibarat peribahasa tak ada rotan maka tak ada rotan (Damn, gw kebanyakan nontonin cak Longtong di ILK), gw yang sadar klo ud ga ada KFC lagi yang beroperasi di sekitar sini pun akhirnya memutuskan untuk kompresi, maaf, maksud gw kompromi, dan akhirnya, gw pun memutuskan untuk mengakhiri perjalanan panjang ini dengan makan McD aj. Secara di Jepang, McD ga jualan ayam goreng, bolehlah gw punya excuse buat ntar dilaporkan ke mak gw kenapa gw tiba2 makan McD. Dan dengan tubuh lemah gemulai serundeng, gw pun nyebrang ke McD buat makan Panas 2, tapi ga di-upsize soalnya duid gw ga cukup, dan akhirnya nyampah di sana sampe akhirnya dijemput mamah. Dan perjalanan gw pun berakhir, begitu pula dengan postingan super panjang, namun pointless ini. Sekarang, saatnya gw buka yutub dan lanjut nonton tetangga masa gitu (I love you Chelsea Islan!).

NB: Setelah gw baca dan periksa, gw sadar klo tulisan gw yg kali ini local banget, which means pembaca yang bukan orang BSD ataupun sekitarnya ga akan ngerti apa peta perjalanan gw yg gw jelaskan di postingan ini. So, sebagai penulis yang baik, gw pun berbaik hati menyediakan peta sederhana supaya kalian yang bukan orang BSD bisa tau kaya gimana sih perjalanan gw mengejar kolonel Sanders ini. Ingat bahwa peta ini digambar dengan MS Paint dalam waktu kurang dari 1 menit sambil ngupil, so, gambar tidak mencerminkan sekala yang proporsional.

Peta Perjalanan

NB lagi: Bonus lagu ending transistor yang gw puter berulang2 selama perjalanan ini. Monggo dinikmati lagu gaul ini:

Stepen – Tak ada KFC, McD pun jadi, yang penting mama jemput

 

Dipublikasi di Cerita Serius | Tag , , | 1 Komentar

Stepen Goes To China 02 – The Food Certification

Oke, ud hampir 3 bulan semenjak gw pergi ke China dan tidak satupun postingan tentang China gw kerjakan hingga saat ini. So, supaya ga keburu lupa (walaupun sebenernya ud cukup lupa), here I am, fulfilling my promise about my adventure in my ancestor’s land. Enjoy…

Yang paling gw seneng dari China adalah makanannya. Yup, dibandingin sama makanan Jepang yang pada umumnya hambar dan ga ada rasanya, makanan-makanan di China ini rasanya lumayan kuat dan porsinya, ehem, porsi abang becak, jangankan nambah, pesen setengah aj belon tentu abis. Selain itu, suasana tempat makannya juga mirip sama suasana tempat makan Indonesia: ruko-ruko kecil atau gerobak2 di pinggir jalan dengan meja dan kursi yang berantakan dan tingkat higienitas yang diragukan. Pokoknya, berasa kaya di Indonesia, despite the fact that it was around 2deg Celcius there and a hot boiling ramen soup goes cold in like a few minutes. Walaupun begitu, ada satu bagian yang menarik yang membedakan China dengan Indonesia.

KIMG0034

Di hampir semua restoran (restorankah, warungkah, tempat makan ga resmikah, pokoknya tempat makanlah) yang gw kunjungi, gw menemukan semacam sertifikat yang dipigura dan terpampang di dinding restorannya. Yup, jadi sertifikat ini adalah semacam sertifikat yang menandakan tingkat keamanan atau higienitas atau kualitas dari makanan yang dijual di restoran tersebut. Ada tiga grade yang tersedia: A, B, atau C, masing-masing dengan smiley yang berbeda yang menggambarkan prediksi wajah orang setelah makan di tempat makan tersebut. Yang grade C, smileynya kaya agak mual sedikit dan kanji adalah ippan alias general. Gw ga tau gimana penilaiannya, yang pasti ini adalah grade yg terendah which means that tempat makan yg punya sertifikat ini lulus dengan nilai pas2an atau malah pake remedial (secara isu UN lagi hot sekarang, haha). Yang grade B, smileynya biasa aj tapi kanjinya gw ga bisa baca, tapi gw yakin ini menandakan bahwa restorannya lebih baik dari restoran yang grade C. Yang terakhir, grade A dengan smiley yg menawan dan kanji yg juga gw ga bisa baca.

Yang menarik di sini adalah gw merasa bahwa kayanya standar penilaian buat ngedapetin sertifikat ini bener2 susah. Kenapa? Karena setiap kali gw makan di warung2, warungnya selalu grade C atau ga majang sertifikat tersebut di dinding restoran mereka, which can mean 3 things: entah mereka dapet nilai bagus tapi ga mau pamer (kaya gw semasa SD), atau mereka dapet nilai jelek tapi malu jadinya ga mau nunjukkin (kaya gw semasa SMP/SMA), atau karena memang ga lulus (kaya gw semasa kerja di sini). Bahkan, restoran di hotel gw, yg mana menurut gw yg terbiasa menggantungkan hidup dari makanan diskonan di Seiyu atau hibahan dari temen2 muslim gw yg ga sengaja salah beli makanan yg mengandung b2, cuman dapet grade B. Yap, padahal everythings looks fine to me in there, bersih dan makanannya enak, cuman sayang playlist di sana isinya cuman 3 lagu dan tiap breakfast gw harus mendengarkan 3 lagu mandarin yg sama diputar berulang2 selama 2 minggu (curcol). Mungkin ini juga salah satu faktor yang menyebabkan restoran hotel tersebut cuman dapet grade B.

Yang lebih lebih (sengaja dipake 2x, biar lebih ngegigit) mengejutkan lagi, selama gw di sana, gw hanya menemukan 1 tempat makan yang dapet grade A. Yup, hanya satu, padahal tempat-tempat makan yang gw kunjungin buat makan malem bisa dibilang cukup bonafid, namun cuman satu tempat makanan yang menyandang gelar kehormatan grade A. Restoran apakah itu? Penasaran? Scroll ke bawah untuk lebih tau.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sedikit lagi sampe, jangan menyerah!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

KFC_Logo

Yup, ini bukan promosi atau akal2an gw biar mak gw ngijinin gw makan KFC, tapi beneran, cuman KFC yang dapet grade A. Of all restaurants, it is KFC. Ternyata cuman kolonel Sanders yang mampu lulus dari standar kelayakan atau apapunlah itu dengan grade A. Padahal, pas gw ke sana, mbak-mbaknya kurang jelita dan kurang ramah. Belon lagi, mereka bener2 ga bisa bahasa Inggris, sampe gw terpaksa kudu pake body language buat mesen makanannya. Walaupun begitu, KFC tetap mendapatkan grade A. Ini berarti, dari segi higienitas dan/atau kelezatan, KFC sangat amat unggul. Fantastis! Emang ga salah selera gw selama ini. Gw pun langsung nelpon mak gw untuk memberitakan kabar gembira ke emak gw ini.

Okay, aside from the fact that KFC is still the best (bukan promosi), I do really feel that papan sertifikasi ini bener2 konsep yang cukup ciamik buat diterapkan ke Indonesia. Well, mungkin ga perlu buat semua restoran, tapi lebih ke restoran2 yang kaya di ruko2 yang dikelola keluarga dan semacamnya. This way, at least saat gw iseng nyoba tempat makan baru, ud ada jaminan dari pihak yang berwenang klo tempat tersebut lulus standar kebersihan, walaupun mungkin urusan sertifikasi ini mungkin ujung2nya bisa dijadiin ajang buat ‘cari duid’ tambahan dan nyusahin sang pemilik restoran.

Anyway, that’s all for my second post tentang petualangan gw di China. Gw sadar bahwa gw di postingan ini dengan terang2an nyebut merek dan masang logonya, jadi, supaya ga dituntut atau jadi masalah, gw perlu bikin disclaimer. Gw tidak ada hubungannya apa2 dengan KFC in anyway dan apa yang gw tulis di sini bukanlah atas dasar karena gw dibayar KFC, walaupun sebenernya gw ga nolak sih klo mau dikasih duid. Dan, gw juga pengen mengucapkan terima kasih atas kesabaran kalian ngescroll ke bawah sampe cape demi ngebaca postingan fantastis ini. Gw tidak menyangka kalian semua se-kurangkerjaan itu. So, that’s all for today. Time for my beauty sleep.

Stepen – bukan agen KFC

Dipublikasi di Cerita Petualangan Liar Saya | Tag , , , | 1 Komentar